Web Hosting
Web Hosting
Berita

Solidaritas Mahasiswa Perantauan di CFD Jakarta, Galang Dana untuk Korban Bencana di Sumatera Barat

214
×

Solidaritas Mahasiswa Perantauan di CFD Jakarta, Galang Dana untuk Korban Bencana di Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini

Jakarta, PilarbangsaNews

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM) Jakarta Raya menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana di Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (30/11/2025).

 

 

Para mahasiswa melakukan aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kampung halaman mereka di Sumatera Barat yang tengah dilanda bencana banjir bandang hingga longsor.

 

Koordinator aksi sekaligus mahasiswa asal Bukittinggi, Ridal Walidawn, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan serentak yang dilakukan oleh mahasiswa Minang di seluruh Indonesia.

 

“Kegiatan hari ini penggalangan dana untuk korban bencana Sumatera Barat. Ini aksi serentak dari mahasiswa Minang se-Indonesia. Kami dari KMM Jakarta Raya mencakup mahasiswa di Jabodetabek, seperti dari Universitas Pamulang, Universitas Pertamina, UMJ, IT-PLN, Gunadarma, dan kampus lainnya,” ujar Ridal kepada media, Minggu (30/11/2025).

 

Aksi ini mengajak warga berdonasi untuk korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, mereka menyasar keramaian di lokasi CFD untuk mengetuk hati warga ibu kota untuk memberikan kepeduliannya. Ridal berharap kehadiran mereka di CFD Jakarta bisa membangun simpati masyarakat luas. “Kami milih CFD biar teman-teman ataupun warga Jakarta ikut simpati, bisa ikut sadar akan bencana yang sedang menimpa keluarga kami,” ucapnya.

 

Menurut Ridal, bencana di Sumatera Barat membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Termasuk, kepedulian dari warga Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi dan Tangerang (Jabodetabek). “Banyak di media sosial yang menyuarakan, jadi mudah-mudahan dari hadirnya kami ini bisa tergerak juga aksi sosial dari masyarakat Jakarta,” sambungnya.

 

Dibalik semangat berkeliling di bawah terik matahari sambil menenteng kotak donasi, tersimpan duka mendalam yang dirasakan mereka. Keluarga terdampak bencana, Aidil, salah satu mahasiswa Universitas Pamulang asal Kabupaten Padang Pariaman, menceritakan perasaan duka sekaligus kebingungan yang dirasakan para mahasiswa perantauan. Jarak yang jauh dari kampung halaman, kewajiban untuk tetap berkuliah, dan sulitnya akses menuju rumah membuat mereka tidak bisa pulang untuk membantu keluarga yang tengah bertahan dari bencana alam.

 

“Jujur buat kami yang di rantau, cukup sedih dan aduh, kami ini harus gimana? Ingin banget bantu keluarga, cuma kan balik lagi kami di sini sedang berkuliah. Tidak tahu apa yang harus dilakukan juga, apalagi akses ke sana susah banget sekarang. Makanya, penggalangan dana ini adalah salah satu upaya yang bisa kami lakukan untuk berkontribusi bagi keluarga yang jauh,” ungkap Aidil.

 

Aidil merupakan salah satu yang keluarganya terdampak langsung banjir bandang. Rumah keluarganya yang berada di Kecamatan Batang Anai diterjang banjir bandang hingga menenggelamkan puluhan rumah di perkampungan tersebut. “Kebetulan rumah saya terdampak banjir cukup tinggi. Bahkan lumpur itu hampir selutut,” kata dia.

 

Ia juga menyoroti sulitnya akses transportasi saat ini yang turut menghambat datangnya bantuan di Sumatera. Menurutnya, akses menuju Bukittinggi dari Bandara Internasional Minangkabau kini harus memutar jauh karena jalan utama putus. “Akses ke kampung sudah pada putus semua. Ke Bukittinggi itu muternya sangat jauh, bisa 6 sampai 9 jam, padahal normalnya cuma 2 jam,” jelasnya.

 

Selain menggalang dana, para mahasiswa ini juga menyuarakan keresahan mereka terkait penyebab bencana di kampung halamannya. Nabihan, mahasiswa asal Payakumbuh, menduga bencana ini bukan semata faktor alam, melainkan akibat kerusakan lingkungan yang masif.

 

“Penyebabnya selain faktor alam hujan dan angin siklon, sepertinya kayak ada illegal logging atau penebangan hutan yang keterlaluan. Harusnya ada regenerasi. Kalau buka lahan sawit, harusnya ada gantinya buat hutan kita,” kata Nabihan.

 

Senada dengan Nabihan, Aidil juga mengaku kecewa dengan pernyataan pemerintah yang menyebut banyaknya kayu gelondongan di lokasi bencana adalah akibat patahan alami saat banjir. Padahal, menurut pengamatannya dari video dan foto yang dikirimkan teman-temannya di kampung, ia yakin bahwa itu adalah hasil penebangan liar yang tak terkendali.

 

“Cukup miris mendengar statement Kementerian Kehutanan yang menyatakan pohon-pohon itu patahan alami. Kalau kita lihat dengan mata telanjang, di perairan itu banyak pohon potongannya rapi,” ujar Aidil.

 

Melalui aksi ini, para mahasiswa berharap pemerintah pusat segera menetapkan status darurat nasional dan memberikan penanganan maksimal. (gk)