Web Hosting
Web Hosting
Berita

MDTU, Gerbang Baru Pendidikan Keagamaan Menuju SMP di Pekanbaru

485
×

MDTU, Gerbang Baru Pendidikan Keagamaan Menuju SMP di Pekanbaru

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews 

 

 

Pendidikan keagamaan kini semakin mendapatkan tempat dalam sistem pendidikan nasional, khususnya di Pekanbaru.

 

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) kota Pekanbaru Dr.Abdul Jamal M.Pd, menyampaikan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) mulai dipandang sebagai salah satu syarat penting dalam proses penerimaan siswa menuju jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

 

Meskipun secara regulasi menurut Jamal, MDTU belum sepenuhnya diintegrasikan dengan sistem formal Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama, beberapa daerah di Indonesia telah menjadikan pendidikan diniyah ini sebagai prasyarat wajib masuk SMP.

 

“Sebetulnya MDTU sudah layak dijadikan syarat masuk SMP di kota Pekanbaru. Di beberapa daerah, hal ini sudah menjadi kewajiban. Apalagi tahun ini, Pak Wali Kota Agung Nugroho sudah mencanangkan Pekanbaru Cinta Al-Qur’an. Ini menjadi momentum yang tepat untuk memulai,” sebut Jamal ketika meninjau pelaksanaan Ujian Akhir MDTU se kota Pekanbaru

 

Saat ini menurut Jamal, MDTU berfungsi sebagai pelengkap pendidikan formal, khususnya dalam bidang keagamaan Islam. Di tengah keterbatasan kurikulum pendidikan agama di sekolah formal, MDTU hadir untuk menutup kekosongan itu.

 

Yang mana sebutnya, peserta didik MDTU umumnya berasal dari kelas 2 hingga kelas 5 SD, dengan fokus pada pembelajaran Al-Qur’an, fiqih, akidah, dan akhlak.

 

“Kalau hanya mengandalkan sekolah formal, kami merasa pendidikan agama belum mencukupi. Di sinilah peran MDTU menjadi krusial. Kami sangat mendukung anak-anak mengikuti MDTU, karena mereka tidak hanya belajar agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang lebih religius,” jelas Jamal.

 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa integrasi antara MDTU dan sekolah formal harus tetap menjaga perbedaan suasana belajar. Ia menilai pembelajaran yang efektif terjadi ketika anak mendapatkan variasi suasana dan pendidik.

 

“Kalau MDTU dijalankan di sekolah yang sama, dengan guru yang sama, hasilnya mungkin tidak optimal. Akan lebih baik bila anak-anak sekolah formal di satu tempat, lalu ikut MDTU di masjid atau lembaga lain, dengan guru yang berbeda,” sebut Kadisdik Pekanbaru.

 

Beberapa masjid di Pekanbaru telah mulai membuka kelas MDTU secara mandiri, namun kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga pendidikan formal dinilai masih kurang.

 

Jamal berharap kedepan, sinergi antara Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, dan pengelola masjid dapat ditingkatkan, agar pendidikan agama melalui MDTU benar-benar menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang lebih utuh.

 

“Dengan upaya ini, harapan agar generasi muda Pekanbaru tumbuh dengan fondasi keagamaan yang kuat bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju masyarakat yang lebih berkarakter dan cinta Al-Qur’an,” tutup Jamal. (Mirza)