Web Hosting
Web Hosting
Berita

Masjid Baitul Jalal Terpilih sebagai Pusat Ujian MDTU

489
×

Masjid Baitul Jalal Terpilih sebagai Pusat Ujian MDTU

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews 

 

 

Ujian akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) se kota Pekanbaru telah dilaksanakan pada Senin, 26 Mei 2025 yang bertempat di Rayon MDTU Baitul Jalal Kecamatan Sukajadi.

 

Dalam sambutan Ketua MK2-DT kota Pekanbaru, Dr.H.Kazwaini Munir M.Ag mengatakan di tahun 2025 MDTA Baitul Jalal terpilih sebagai lokasi pusat pelaksanaan, dengan total 161 siswa.

 

Kegiatan ini menurutnya, merupakan hasil sinergi antara pengurus yayasan, Ketua Musyawarah Kerja Kepala MDTA Kecamatan Sukajadi, serta dukungan penuh dari para pengelola madrasah.

 

“Alhamdulillah, dukungan yang diberikan sangat luar biasa. Ini adalah bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan diniyah di wilayah kami,” ujar Kazwaini.

 

Ia pun menyebutkan untuk menjaga integritas dan objektivitas, sistem pengawasan diterapkan secara ketat. Para pengawas diberi arahan dan tata tertib yang tegas, mereka tidak diperkenankan memberi bantuan dalam bentuk apapun kepada peserta.

 

“Fokus pengawas adalah murni pada pengawasan, bukan memberikan petunjuk atau toleransi terhadap pelanggaran,” tegas Kazwaini seraya menambahkan setiap ruang kelas diawasi oleh 2 orang pengawas yang berasal dari MDA yang berbeda.

 

“Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, terhitung sejak 26 hingga 31 Mei 2025. Ujian ini diharapkan dapat memberikan gambaran objektif terhadap capaian pembelajaran serta menjadi dasar dalam merancang perbaikan kurikulum diniyah ke depan,” tutupnya.

 

Sementara itu, Plt.Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Kasi PD Pontren) Kemenag kota Pekanbaru, H.Zamri S.Ag M.H., menyatakan pihaknya akan tetap berupaya menekankan pentingnya integritas dalam pelaksanaan ujian akhir di tingkat madrasah.

 

“Kami menginginkan agar seluruh proses ujian akhir santri madrasah benar-benar bersih dari segala bentuk kecurangan. Nilai yang diperoleh haruslah mencerminkan kemampuan asli santri tersebut,” ujar Zamri.

 

Sebagai bentuk keseriusan, Kemenag meminta setiap madrasah untuk dapat mengutus pengawas yang benar-benar menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal di lokasi ujian.

 

“Kami berharap para pengawas dari madrasah betul-betul mengawasi pelaksanaan ujian ini. Tidak ada ruang untuk memberi celah kecurangan. Hal ini demi menjaga kemurnian hasil belajar anak-anak kita,” lanjut Zamri.

 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap mata pelajaran yang diujikan merupakan tanggung jawab dari masing-masing lembaga pendidikan, sesuai rayon atau kecamatan tempat mereka berada. Pembuatan soal ujian juga dilakukan oleh tim yang ditunjuk langsung oleh lembaga pendidikan di wilayah tersebut.

 

“Penilaian dilakukan berdasarkan mata pelajaran yang memang telah ditentukan dan dirancang oleh masing-masing sekolah dalam rayon. Jadi proses ini sepenuhnya dikawal agar sesuai prosedur,” tutupnya.

 

Ketua Yayasan Baitul Jalal, H.Fauzi Suli menyampaikan rasa apresiasinya terkait ditetapkan sebagai pusat Ujian Akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) dan ini untuk pertama kalinya.

 

“Ini merupakan kebanggaan bagi kami, karena kami ditunjuk sebagai pusat ujian. Mudah-mudahan hal ini menjadi daya tarik bagi seluruh santri agar semakin berminat mengikuti pendidikan MDTU di sini,” ujar Fauzi.

 

Menurutnya, jika tahun depan giliran pelaksanaan ujian jatuh di Kecamatan Sukajadi yang memiliki sekitar 30 hingga 50 MDTU, pihaknya tetap menyatakan kesiapan apabila kembali dipercaya menjadi tuan rumah.

 

“Kami akan selalu siap. Gedung dan fasilitas sudah tersedia, berkat sumbangsih jemaah yang memiliki visi mulia membina generasi muda melalui pendidikan Qur’an,” tambahnya.

 

Terakhir menurut Fauzi, Yayasan Baitul Jalal juga menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya, termasuk bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

 

“Kami sudah memiliki program subsidi bahkan pembebasan biaya bagi santri yang tidak mampu. Tujuan kami jelas, tidak boleh ada satu pun anak di lingkungan masjid ini yang tidak bisa membaca Al-Qur’an,” tegas Fauzi. (Mirza)