Web Hosting
Web Hosting
Artikel

HP Boleh Pintar, Tapi Adab Tidak Bisa Didownload. Anak Gen Alfa Butuh Teladan, Bukan Cuma Google

×

HP Boleh Pintar, Tapi Adab Tidak Bisa Didownload. Anak Gen Alfa Butuh Teladan, Bukan Cuma Google

Sebarkan artikel ini

Penulis: Zulvarita Syaf (Ex Guru SMK Negeri 1 Gunung Talang, 2002-2025)

Teknologi tidak bisa kita tolak, tetapi karakter tidak boleh kita gadaikan. HP hanya bisa memberi informasi, hanya keluarga dan surau yang bisa memberi adab.

 

 

Hari ini anak-anak sudah lebih pintar membuka Facebook, TikTok, WhatsApp, dan Instagram. Tapi kita sebagai orang tua tidak perlu bangga, karena itu memang sudah zamannya.

 

Anak-anak PAUD, TK, SD sekarang ini disebut Generasi Alfa. Mereka tidak butuh lagi sekadar pemberi informasi, karena informasi sudah mereka dapatkan dari media sosial. Mereka butuh keteladanan.

 

Karakter Bagus di TK, Hilang di SD, Kenapa?

Di PAUD dan TK, karakter anak masih bagus. Sopan santunnya baik, ucap salam, berdoa sebelum makan. Keteladanan di sekolah terbawa ke rumah. Tapi saat masuk SD, karakter itu mulai berubah ke arah yang kurang baik.

 

Dulu masalah kita adalah banyak anak yang tidak sekolah. Sekarang masalahnya terbalik: anak sekolah, tapi karakternya tidak ikut sekolah.

 

Nilainya bagus, tapi tidak mau menyapa guru. Nama gurunya saja tidak tahu, padahal sudah belajar 3 tahun. Hafal Pancasila dan Undang-Undang, tapi tidak bisa budaya antri.

 

Ada 3 penyebabnya:

1. Guru digantikan Google. Anak bertanya ke HP, bukan ke guru, orang tua, dan ninik mamak.

2. Waktu anak lebih banyak di layar HP daripada dengan orang tua. Orang tua sudah tidak jadi role model lagi.

3. Sekolah mengejar angka, keluarga mengejar ekonomi. Karakter tidak ada yang menjaga, sehingga anak miskin karakter.

 

Anak di sekolah hanya sekitar 7 jam. Sisanya di rumah dan lingkungan. Maka kuncinya: karakter itu adalah di rumah.

 

Guru pun kini serba salah. Saat mendidik anak untuk disiplin, orang tua komplain, guru dilaporkan ke LSM. Padahal lingkungan sekarang sangat berbahaya: narkoba, LGBT, pornografi, semua dekat dengan anak.

 

Solusinya: Kembali ke Surau dan Keluarga

Di Minangkabau kita sebenarnya sudah punya kurikulum karakter terbaik: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

 

Ada 3 cara sederhana yang bisa langsung diterapkan:

1. Hidupkan Kembali ke Surau
Magrib sampai Isya adalah jam keluarga. HP dimatikan, anak mengaji, orang tua mendengarkan. Keluarga bisa jadi surau. Di sini anak disiplin waktu, adab kepada guru ngaji, dan kebersamaan akan terbentuk.

 

2. Adab Kecil Dampaknya Besar
Salam saat masuk rumah, bereskan piring kotor sendiri, minta izin sebelum memakai barang. Karakter besar lahir dari kebiasaan kecil.

 

3. Libatkan Anak di Kerja Nyata
Jangan hanya disuruh belajar. Ajak gotong royong, bersihkan rumah, cuci motor dll.

 

Untuk guru SD diusulkan buat kesepakatan satu hari tanpa gadget di sekolah dan tanpa HP saat Magrib – Isya di rumah, kenali karakter tiap anak, dan buat Rapor Karakter.

 

Selain rapor akademik, harus ada rapor kejujuran, kerapian, kepedulian, disiplin, dan adab. Nilai ini yang dibaca pertama ke orang tua saat terima rapor.

 

Guru Tidak Boleh Kalah Oleh Google

Pesan paling kerasnya untuk guru SD di era digital: Guru tidak boleh kalah oleh Google.

 

Kalau hanya hafalan dan rumus, murid bisa tanya ke ChatGPT, Gemini, dan lain-lain. Maka guru harus berubah peran: dari pemberi informasi menjadi pemberi teladan. Google bisa memberi jawaban matematika, tapi Google tidak bisa memberi contoh cara minta maaf kalau salah.

 

Dari mengajar satu cara, menjadi mengenali pintu masuk anak. Tidak ada anak bodoh, yang ada anak yang belum ketemu cara belajar yang pas.

 

Dari melarang HP, menjadi mengajari adab digital: Tanya dulu sebelum di share, tulis yang baik seperti bicara yang baik, jam HP ada batasnya.

 

Di Minangkabau, kita sudah punya sekolah karakter hebat: Rumah Gadang mengajarkan kebersamaan, Mamak mengajarkan tanggung jawab, Surau mengajarkan disiplin dan adab, Dapur mengajarkan kesabaran dan kasih sayang.

 

Ini Bukan Kerja Kecil, Ini Untuk Indonesia Emas 2045

Tahun 2045, Indonesia tepat 100 tahun merdeka. Di tahun 2030-2045, 70% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Ini yang disebut bonus demografi.

 

Kalau generasi Alfa yang sekarang kita didik karakternya dengan baik, 20 tahun lagi mereka akan jadi pengusaha, guru, petani modern, TNI, Polri, pemimpin yang jujur dan beradab. Maka Indonesia jadi negara besar dan maju.

 

Tapi kalau hanya ilmunya saja, tanpa karakter, yang terjadi bukan Indonesia Emas, tapi pengangguran massal dan kriminalitas tinggi.

 

Apa yang kita kerjakan sekarang untuk pendidikan karakter ini bukanlah kerja kecil. Kita sedang mempersiapkan SDM untuk Indonesia Emas 2045, khususnya di Kabupaten Solok.

 

Bayangkan, anak TK dan SD yang sekarang kita ajari Magrib mengaji, di tahun 2045 mereka berumur sekitar 32 tahun. Merekalah yang akan memimpin negara ini.

 

Ada konsep psikologi stifin yang dibuat oleh Bapak Farid Poniman, yaitu melihat dominasi otak/jenis kecerdesan, dalam konsep ini tidak ada anak yang bodoh tapi mereka mempunyai kecerdasan masing masing.

 

1. Kecerdasan Sensing (S) merupakan type pekerja keras, detail, rajin, ingatan kuat, ini bisa dikatagorikan type eksekutor lebih dominan berperan pada belahan otak kiri bawah

 

2. Kecerdasan Thingking (T) merupakan type logis, analitis, suka data, objektif lebih dominan berperan pada belahan otak kanan atas

 

3. Kecerdasan Intuiting (I) merupakan type kreatif, visioner, suka ide besar, tidak suka detail lebih dominan berperan pada belahan otak kanan atas

 

4. Kecerdasan Feeling (F) merupakan type perasa, empati tinggi, pandai bergaul, suka membimbing dikatagorikan type pemimpin, lebih dominan berperan pada belahan otak kanan bawah

 

5. Kecerdasan Insting (In) merupakan type serba bisa, tenang, naluri kuat, penengah, lebih dominan berperan pada otak tengah.

 

Walaupun konsep stifin ini masih kontroversial di dunia pendidikan tapi ini bisa salah satu jadi reverensi buat kita untuk mengenali gaya belajar anak anak kita.

 

Bonus demografi jadi bonus atau beban, kuncinya adalah apa yang kita lakukan 10 tahun ini di keluarga, lingkungan, dan sekolah.

 

Mari kita membuat keluarga dan surau kita lebih menarik daripada HP.

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis