Oleh : Agusmardi
Jika sejarah perjuangan bangsa punya alamat, salah satunya ada di Kampung Akad. Di kampung kecil yang terletak hampir di hulu Batang Lengayang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, itu berdiri sebuah saksi bisu yang hampir dilupakan.
Bangunan tua rumah panggung. Itulah Markas Komando Tentara Pelajar (TP) Sumatera Tengah, Komando Pesisir Selatan – Kerinci (PSK).
Jejaknya bisa ditemukan sekitar 14 kilometer dari pusat Kecamatan Lengayang. Sengaja diletakkan di sana. Menurut pemangku Adat Kaum Sikumbang Edison, M, Kes yang bergelar Datuak Rajo Indo, lokasi itu dipilih bukan tanpa alasan — selain faktor keamanan, Kampung Akad dianggap paling strategis untuk membuat perencanaan dan memobilisasi pasukan perang gerilya.
Secara fisik, bangunan ini berukuran 18×8 meter, berdiri di atas lahan 55×30 meter, dengan lumbung padi dan kolong setinggi 1,5 meter di halamannya. Rumah milik penduduk setempat yang di era 1940-an dikorbankan menjadi pusat pertahanan fisik revolusi 1947-1949.
Ini bukan markas sembarangan. Tentara Pelajar adalah kesatuan militer resmi yang anggotanya para pelajar. Di Jawa dikenal TRIP, TP, Corps Pelajar Siliwangi, di Sumatera Tengah kita memakai nama Tentara Pelajar. Mereka yang tadinya memegang buku, ketika negara memanggil, memegang senjata.
Ironisnya, nasib sang markas hari ini bertolak belakang dengan besarnya sejarah yang pernah ditampungnya.
Saat peringatan HUT RI ke-81 lalu, kondisi rumah itu sudah memprihatinkan. Separuh bangunan dari atap hingga dinding di bagian utara telah runtuh. Meski di halamannya berdiri plang bertuliskan
“Markas Komando Tentara Pelajar Sumatera Tengah”, tak terlihat perawatan dan perbaikan. Bahkan menurut warga, bangunan itu pernah tertimpa pohon kelapa yang tumbang tepat di tengah rumah.
Padahal potensinya luar biasa. Lengayang sebenarnya punya paket lengkap wisata sejarah: Rumah Percetakan Uang RI di Koto Pulai, Monumen Tugu Uang, dan Markas Tentara Pelajar di Kampung Akad. Pemerintah Kabupaten sendiri menyebut ini sebagai warisan sejarah kemerdekaan yang bisa dilirik.
Tapi apa yang terjadi di Kampung Akad? Tak ada endorsment. Tak ada perhatian pembangunan. Tak ada revitalisasi sebagai cagar budaya. Jalan menuju lokasi masih jadi keluhan, papan informasi minim, dan yang paling menyakitkan — tidak ada narasi kebanggaan yang ditanamkan kepada generasi muda bahwa di kampung mereka, strategi mempertahankan Republik Indonesia pernah disusun.
Kampung Akad hari ini adalah potret klasik bagaimana kita memperlakukan sejarah: dielu-elukan saat upacara 17 Agustus, dilupakan di 364 hari lainnya.
Padahal jika dikelola serius, Markas TP ini bisa menjadi, pertama, Destinasi Wisata Sejarah Edukasi: Satu-satunya markas TP yang masih ada fisik bangunannya di Sumbar.
Kedua Pusat Riset Sejarah Lokal: Riset UIN IB Padang bahkan sudah mencatat nilai historisnya sebagai pusat pertahanan 1947-1949. Ketiga, Penggerak Ekonomi Nagari: Seperti model di Jawa, heritage trail bisa menghidupkan homestay, kuliner, dan pemandu lokal.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Kampung Akad punya sejarah. Buktinya ada. Pertanyaannya adalah, apakah ada kemauan politik untuk meng-endorse sejarah itu menjadi masa depan?
Jangan sampai kita baru merawat setelah bangunan itu benar-benar rata dengan tanah. Karena jika markas itu runtuh, yang runtuh bukan hanya kayu dan atapnya — tapi ingatan kolektif kita tentang bagaimana anak-anak sekolah di pelosok Pesisir Selatan pernah bertaruh nyawa untuk Indonesia.
*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis




















