Web Hosting
Web Hosting
Berita

Pertunjukan Seni: “Rantau Berbisik”, Ada Pesan Dibalik Gerakan

204
×

Pertunjukan Seni: “Rantau Berbisik”, Ada Pesan Dibalik Gerakan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan PilarbangsaNews.Id

 

 

Pertunjukan “Rantau Berbisik” menghadirkan kisah nyata. “Rantau Berbisik adalah bagian dari saya,” begitulah ujar Sang Maestro Tari Minang, koreografer Ery Mefri, ketika memperlihatakan video pertunjukannya.

 

Terlihat, suasana panggung temaram. Titik cahaya perlahan mendekat dari sudut panggung, membentuk siluet seorang penari.

 

Sorotan cahaya dari samping kiri dan atas mulai menerangi tubuhnya, memperlihatkan gerakan yang luwes dan penuh misteri.

 

Ia menari di atas meja, tubuhnya meliuk mengikuti dentuman ritmis lonceng kecil, kring… kring… menambah suasana magis.

 

Setiap gerakannya mengundang perhatian, membangun ketegangan yang semakin terasa.

 

Gerakan itu menggambarkan sebuah kisah seorang anak lelaki, yang merantau meninggalkan orang terdekatnya dikampung sana. Merantau dengan penuh kegelisahan.

 

Penari turun dari meja, mengitari kursi di sekelilingnya, lalu menghentakkan meja dengan ritmis. Dentuman semakin keras. Cahaya putih yang awalnya lembut berubah menjadi merah menyala.

 

Seakan merantau menjadi perasaan yang sulit. Sulit dalam memutuskan pilihan. Warna merah menjabarkan gejolak, emosi, dan penafsiran apa saja dari penonton.

 

Dari belakang panggung, tiga penari lain muncul membawa gerobak ke sisi kanan panggung. Dua di antaranya mulai menggoyangkan tubuh, memainkan piring dengan lincah.

 

Sementara itu, satu penari mendekati penonton yang duduk di dekat meja, seolah mengajak mereka masuk ke dalam pertunjukan.

 

Uda Ery, biasa orang panggil, mengatakan itulah gambaran dirinya ketika masa itu. Pergi merantau, lalu berkuras di sebuah rumah makan padang di rantau sana. Sendiri saja.

 

Tiba-tiba, ketiga penari itu mengayunkan piring mereka bersamaan. Musik mereda perlahan. Keempat penari kini bersatu, piring yang diayunkan tadi diletakkan diatas meja.

 

Meja itu digunakan sebagai alat musik, menghentakkan dan menghempaskannya dengan irama yang syahdu.

 

Gejolak yang ada pada dirinya, penuh amarah. Dentuman piring dan meja yang bersatu itu menjadi tanda, bahwa ini adalah emosi yang tidak bisa diluapkan oleh orang lain.

 

Mereka mulai memainkan tangan dan kaki dalam irama randai—bertepuk, memukul celana atau yang dikenal dengan Sarawa Galembong, dengan ritme yang khas. Musik perlahan melambat. Keheningan menyelimuti panggung.

 

Dari sudut kiri, seorang penari masuk. Gerakannya lincah, memperagakan jurus silek Minang. Ia terjatuh, menghantam lantai, lalu kembali bangkit dengan gerakan yang mendayu di bawah cahaya merah terang.

 

Langkahnya pelan, menuju ke tengah panggung. Saluang mengalun lembut, memperkuat nuansa mistis. Empat penari lainnya yang berada di meja berdiri serentak, menghampiri penari silek, lalu membentuk lingkaran di sekelilingnya.

 

Mereka bergaya dalam formasi randai, berputar perlahan, seakan mengitari cahaya bundar yang bersinar di tengah mereka.

 

Penari utama, seorang laki-laki, tiba-tiba menepukkan tangan. Tubuhnya berputar cepat di tempat, lalu memukul celana sarawa galembongnya, diikuti oleh penari lain yang merespons dengan irama yang semakin kencang.

 

Cahaya berubah menjadi biru. Sebagian penari kembali ke gerobak, sementara yang lain mengatur kursi, membentuk susunan baru yang menghadap ke sudut kanan bawah penonton.

 

Penari pembuka kembali naik ke atas meja. Tubuhnya meliuk dengan indah, tarian yang penuh gairah.

 

Tiba-tiba, dari belakang, seorang penari lain meloncat ke atas meja, disambut oleh penari laki-laki yang turun dan mulai mengelilinginya, mengikuti alunan musik yang semakin dinamis.

 

Kata Uda Ery, makna dari gerakan itu adalah ketika ibunya datang sebatang kara, mencari dan menemukan seorang Uda Ery di lapau nasi Padang itu.

 

Keduanya kini berhadapan. Mata bertemu mata. Seakan ada koneksi tak terlihat di antara mereka. Dengan gerakan yang semakin cepat, mereka menari dalam tensi tinggi, seolah hendak bertarung.

 

Mereka memukul tubuh sendiri, seperti dalam gerakan randai, membangun ketegangan terakhir.

 

Terkesan ada perasaan yang tak lepas, ego dalam diri menjadi berkecamuk. Beradu dengan detak jantung kencang, antara pulang atau tidak.

 

Tiba-tiba hening seketika. Lampu meredup, menyisakan siluet yang memudar perlahan. Suara saluang kembali mengalun, bermain, menari membuat irama.

 

Semua diam, penari perlahan mendorong gerobak, berjalan ke sudut kiri belakang meninggalkan panggung.

 

Cahaya biru mengecil, ditemani sorotan lampu putih dari sisi sebelah kanan, menyoroti penari gadis yang duduk dikursi yang terang benderang.

 

Ternyata gadis yang duduk itu adalah uni Angga, yang berperan menjadi ibu dari Uda Ery. Menangis dia, tertegak kepalanya untuk mengajak Uda Ery pulang kembali ke kampung halaman. Hanyut kita di bagian itu.

 

“Salah satu emosi yang tidak bisa diluapkan itu, ketika ingin merantau merubah nasib, namun tidak bisa meninggalkan ibu seorang diri, dan ayah sudah tak lagi bersama ibu. Cerai,” kata Uda Ery.

 

Itulah pertunjukan yang disuguhkan, banyak perasaan didalam, terombang ambing kita dibuatnya. Pertunjukan yang tiada duanya, namun harus ada lagi pertunjukan berikutnya. Ditunggu Uda Ery. (*)