Web Hosting
Web Hosting
Berita

Makna Hari Kartini di Mata Plt. Kepala SMAN 8 Pekanbaru

236
×

Makna Hari Kartini di Mata Plt. Kepala SMAN 8 Pekanbaru

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews 

 

 

Tanggal 21 April merupakan sejarah penting bagi bangsa Indonesia, seorang pejuang kemerdekaan dari kaum wanita telah lahir di tahun 1879 lalu.

 

Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita hingga saat ini telah menjadi panutan bagi kaum hawa di Indonesia.

 

Tepat pada Senin, tanggal 21 April 2025 ini juga menjadi hari istimewa bagi Sulismayati, M.Si sebagai Plt.Kepala SMAN 8 Pekanbaru merayakan hari kelahirannya yang ke 52 tahun.

 

Wanita yang baru beberapa bulan memimpin SMAN 8 Pekanbaru ini ternyata sangat mengidolakan R.A. Kartini sebagai sosok pahlawan Nasional yang mengajarkan kaum wanita di Indonesia untuk lebih hebat dan kuat menjadi seorang pemimpin.

 

“Di tengah dinamika kemajuan bangsa, perempuan Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai pilar penting pembangunan dan berbagai sektor, hal ini membuktikan bahwa semangat emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh R.A. Kartini, bukanlah mimpi semata, melainkan kenyataan yang hidup dan mengakar,” sebut Sulismayati.

 

Dengan nada lugas namun penuh kelembutan, ia menggambarkan realita dalam kehidupan sehari-hari yang dijalani banyak perempuan Indonesia khususnya bagi dirinya sendiri.

 

“Kami bisa memasak, mencuci, menyiapkan sarapan, membangunkan anak sekolah, bahkan memimpin rapat dan lainnya. Semuanya dalam satu waktu yang bersamaan,” ujar Sulismayati.

 

Kepribadian wanita, menurut Sulismayati ini bukanlah makhluk yang ingin ‘menang sendiri’. Emansipasi yang diperjuangkan Kartini bukanlah ajakan untuk menjadi egois atau menyingkirkan laki-laki, melainkan membangun sinergi yang sehat dan setara.

 

“Kami tetap percaya, dalam kehidupan ini, laki-laki dan perempuan adalah mitra. Kami tetap butuh dipimpin, dibimbing, dan diajak bekerja sama,” lugasnya.

 

Refleksi ini tambah sulismayati terasa kuat dalam lingkungan kerja yang ada di SMA Negeri 8 Pekanbaru, mayoritas tenaga pendidik adalah perempuan.

 

“Profesi guru itu, secara historis dan naluriah, memang dekat dengan perempuan. Namun demikian, keberadaan guru laki-laki tetap sangat dibutuhkan. Kami akui, ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dari segi tenaga hingga rasionalitas dalam berpikir. Jadi, sinergi tetap menjadi kunci,” ujar Plt.Kepala SMAN 8 Pekanbaru ini.

 

Dalam penyampaian terakhirnya, ia berpesan khusus kepada para siswi agar bisa menjadi perempuan yang berharga, layaknya seperti pakaian eksklusif yang terbungkus rapi di etalase mall tidak semua bisa menyentuh, hanya mereka yang datang dengan niat baik yang layak menghampiri.

 

“Perempuan masa kini, harus berani bermimpi, berprestasi setinggi langit, dan melangkah sejauh mungkin. Dunia tak lagi membatasi perempuan untuk belajar, bekerja, dan berkarya,” ujar Sulismayati.

 

“Dalam setiap langkah perempuan Indonesia hari ini, kita telah melihat jejak perjuangan Kartini. Namun kita juga melihat sesuatu yang lebih besar yakni sebuah bangsa yang pelan tapi pasti, belajar memaknai kesetaraan bukan sebagai perbandingan kekuatan, melainkan sebagai pertemanan yang saling menguatkan,” tutupnya. (Mirza)