Pekanbaru, PilarbangsaNews
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru memastikan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah tahun 2025 berjalan sesuai target. Hingga akhir Desember, progres pembangunan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah mencapai 100 persen, sementara Sekolah Dasar (SD) rata-rata telah menyentuh angka 90 persen.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Kota Pekanbaru, Multiferi S.T., mengatakan bahwa untuk jenjang SMP, revitalisasi telah tuntas di lima sekolah dan tidak menemui kendala berarti.
“Untuk SMP, progresnya sudah 100 persen di lima sekolah. Secara fisik sudah clear dan tidak ada masalah,” ujar Multiferi, Senin (15/12/2025).
Sementara itu, revitalisasi SD masih berada dalam tahap penyelesaian akhir. Multiferi menjelaskan bahwa secara keseluruhan progres pembangunan SD telah mencapai rata-rata 90 persen dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada 31 Desember 2025.
“Memang ada beberapa SD yang sudah 100 persen, tapi kalau dirata-ratakan sekarang di angka 90 persen. Target terakhir tetap akhir Desember,” jelasnya.
Menurut Multiferi, seluruh pekerjaan revitalisasi dilaksanakan langsung oleh kepala sekolah dengan mengacu pada petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan oleh Kemendikdasmen RI. Pelaksanaan di lapangan, kata dia, berjalan lancar berkat kolaborasi antara pihak sekolah dan tim konsultan.
“Alhamdulillah, pekerjaan yang dilaksanakan kepala sekolah sudah sesuai juknis dari kementerian. Kepala sekolah dan tim konsultan di lapangan bekerja sama dengan baik,” katanya.
Meski pembangunan fisik telah rampung, Disdik Pekanbaru masih menyelesaikan sejumlah administrasi, khususnya Berita Acara Serah Terima (BAST) aset yang harus ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan. “Yang tersisa sekarang itu administrasi, yakni BAST. Ini bukan berita acara pemeriksaan, karena pemeriksaan dilakukan langsung oleh tim fasilitator kementerian bersama tim dari dinas,” terangnya.
Multiferi menegaskan, bangunan sekolah yang telah selesai dan dinyatakan layak oleh tim dinas dan kementerian sudah dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. “Kalau sudah 100 persen dan sudah diperiksa oleh tim dinas serta kementerian, bangunan itu sudah boleh dipakai,” ujarnya.
Ia berharap, revitalisasi sekolah ini dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan awal pembangunan, yakni mengatasi persoalan sekolah double shift dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Kami berharap bangunan ini digunakan sesuai fungsinya. Tujuan utama kita adalah menghindari sekolah yang belajar sampai sore. Dengan adanya revitalisasi ini, pembelajaran diharapkan bisa berlangsung satu shift sesuai kurikulum dari kementerian,” tutup Multiferi. (Mirza)













