Web Hosting
Web Hosting
Berita

Dewan Jamu Indonesia Sumatera Bagian Tengah Dikukuhkan, Berkontribusi Bagi Warisan Budaya dan Kesehatan

442
×

Dewan Jamu Indonesia Sumatera Bagian Tengah Dikukuhkan, Berkontribusi Bagi Warisan Budaya dan Kesehatan

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews 

 

 

Pemerintah Kota Pekanbaru mendukung penuh keberadaan Pengurus Daerah Dewan Jamu Indonesia Sumatera Bagian Tengah yang telah dikukuhkan pada Rabu (9/7/2025)

 

Pada sambutan Wali Kota Pekanbaru yang diwakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Plt. Kadiskes) Kota Pekanbaru, dr. Fira Septiyanti menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada pengurus Daerah Dewan Jamu Indonesia Sumatera Bagian Tengah, yang nantinya akan memberikan kontribusi bagi kemajuan jamu sebagai warisan budaya dan kesehatan bangsa.

 

“Dengan dilantiknya pengurus Dewan Jamu Indonesia pemerintah Pekanbaru tentunya sangat bangga telah mengembangkan dan melestarikan kembali jamu sebagai minuman herbal tradisional. Dengan meningkatnya tren kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, maka jamu memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk kesehatan bagian dari industri unggulan nasional,” jelas dr. Fira.

 

Menurutnya, dengan dukungan upaya pelestarian dan pengembangan jamu sebagai bagian pelayanan kesehatan tradisional yang aman, bermutu, dan terintegrasi. Maka diharapkan Dewan Jamu Indonesia dapat selalu berkolaborasi bersama dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi dan masyarakat.

 

“Kami pemerintah Kota Pekanbaru mengajak kepada seluruh elemen untuk terus mendorong inovasi dan penelitian berbasis ilmu pengetahuan, agar jamu di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera bagian tengah bisa bersaing di pasar nasional dan internasional tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya,” tutup Plt. Kadis Kesehatan Kota Pekanbaru.

 

Setelah dilantik sebagai Ketua Pengurus Daerah Sumatera Bagian Tengah Dewan Jamu Indonesia, dr. Eddy Sulistijanto M.M., mengatakan kedepan akan mendorong kembali kejayaan warisan budaya nusantara sekaligus menghadirkan inovasi dalam dunia kesehatan, dengan menggagas pengembangan perdagangan jamu berbasis riset dan terapi kesehatan.

 

Inisiatif ini menurut dr. Eddy tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM lokal, tetapi juga menjadikan jamu sebagai alternatif pengobatan yang ilmiah dan terukur.

 

“Melalui kerja sama strategis dengan perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas (Unand), berbagai riset terkait khasiat jamu telah dilakukan oleh para profesor dan peneliti. Sayangnya, selama ini hasil penelitian tersebut belum menyentuh langsung pasien atau dunia klinis. Untuk itu, langkah konkret kini tengah disusun yakni dengan mengalihkan hasil riset dari laboratorium ke pemanfaatan nyata di tengah masyarakat, bahkan hingga ke ranah pelayanan rumah sakit,” ujar dr. Eddy.

 

“Selama ini, jamu hanya berhenti di tahap penelitian. Kami ingin menariknya ke tahap berikutnya, untuk terapi pasien. Bukan hanya sebagai minuman pelengkap seperti welcome drink, tapi benar-benar jadi bagian dari sistem penyembuhan dan self-care yang berbasis budaya,” imbuhnya.

 

Lebih jauh, ia menyampaikan gagasan ini juga membuka ruang bagi para mahasiswa dan akademisi untuk menjadikannya sebagai bagian dari studi ilmiah atau disertasi, misalnya meneliti efektivitas dosis jamu tertentu terhadap jenis keluhan kesehatan tertentu.

 

“Kita bisa menemukan dosis ideal, efeknya terhadap tubuh, bahkan rasa yang diterima masyarakat. Ini bisa menjadi acuan terapi berbasis herbal yang ilmiah,” ungkapnya.

 

dr. Eddy menambahkan, salah satu aspek penting yang ingin digarisbawahi adalah pendekatan self-care atau perawatan mandiri, yang kerap terlupakan dalam sistem kesehatan modern.

 

“Tidak semua masyarakat perlu atau mampu langsung ke rumah sakit. Melalui jamu, masyarakat bisa mendapatkan alternatif terapi rumahan yang aman, terjangkau, dan berbasis kearifan lokal,” ujar dr. Eddy.

 

“Dari sisi perdagangan, pendekatan ini diharapkan mampu membuka pasar baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah di bidang jamu tradisional. Tidak hanya sebagai produk konsumsi, jamu dikembangkan menjadi komoditas bernilai tinggi dengan basis data riset yang kuat,” tutupnya.

 

Dengan integrasi antara riset ilmiah, praktik kesehatan modern, dan pengembangan UMKM, Riau sedang merintis model baru dalam pengelolaan jamu yang berpotensi menjadi percontohan nasional.

 

Jika berhasil integrasi antara riset ilmiah, praktik kesehatan modern, dan pengembangan UMKM bukan tidak mungkin jamu yang selama ini hanya menjadi simbol tradisi akan naik kelas menjadi bagian dari sistem kesehatan yang terstruktur, terukur, dan diakui dunia. (Mirza)