Web Hosting
Web Hosting
Artikel

Menyulam Kebaikan, Menambal Keburukan

7
×

Menyulam Kebaikan, Menambal Keburukan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Eko Faiz (Pemerhati Sosial)

“Adakalanya hidup ini penuh dengan kebaikan, adakalanya menyembur keburukan dalam mendedikasikan hidup”. Dari sebait kalimat ini muncul keinginan menulis substansi sederhana tapi penuh makna dalam Menyulam Kebaiakan, Menambal Keburukan.

 

 

Hidup adalah rangkaian pilihan. Setiap hari kita berhadapan dengan kesempatan untuk berbuat baik, tetapi pada saat yang sama juga berhadapan dengan berbagai kelemahan, kesalahan, dan keburukan yang muncul di sekitar kita. Karena itu, kehidupan tidak cukup hanya diisi dengan keinginan untuk menjadi baik. Kita juga perlu belajar menyulam kebaikan sekaligus menambal keburukan.

 

Menyulam kebaikan berarti merangkai hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang bermakna. Sebuah senyum, sapaan yang ramah, kejujuran dalam bekerja, kepedulian kepada sesama, kesediaan membantu, dan keberanian membela kebenaran adalah benang-benang kecil yang jika terus dirajut akan menghasilkan kehidupan yang lebih indah. Kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung. Sering kali ia justru tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

 

Namun, hidup tidak pernah sempurna. Di tengah kebaikan selalu ada kekurangan. Ada kesalahan dalam mengambil keputusan, ada pelayanan yang belum optimal, ada komunikasi yang tersumbat, ada kepentingan yang berbenturan, bahkan ada perilaku yang merugikan orang lain. Di sinilah pentingnya menambal keburukan. Menambal bukan berarti menutupi kesalahan agar tidak terlihat. Menambal berarti memperbaiki bagian yang rusak agar tidak semakin melebar.

 

Kesalahan harus diakui, dievaluasi, dan diperbaiki. Kekurangan harus dijadikan pelajaran. Konflik harus dikelola. Ketidakadilan harus dikoreksi.

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis