Oleh : Eko Faiz (Kabid Statistik Sektoral, Diskominfotik Sumbar)
Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kapasitas produksi dan kegiatan barang serta jasa di suatu negara atau wilayah dalam periode tertentu. Hal ini diukur melalui kenaikan pendapatan nasional riil atau Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Tujuan utama pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan kapasitas produksi, menaikkan pendapatan per kapita, memperluas lapangan kerja, dan mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat secara adil dan merata.
Aspek utama yang digambarkan dalam pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan jumlah total produksi barang dan jasa, keberhasilan atau dinamika kebijakan fiskal dan moneter dalam menggerakkan pasar dan perubahan tingkat pendapatan serta potensi kesejahteraan masyarakat secara kuantitatif.
Dalam konteks Sumatera Barat, data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi selama satu dekade 2016-2025 bersifat dinamis: 2016 sebesar 5,26 persen; 2017 5,45 persen; 2018 5,14 persen; 2019 5,01 persen; 2020 -1,61 persen; 2021 3,29 persen; 2022 4,36 persen; 2023 4,62 persen; 2024 4,36 persen; dan 2025 3,37 persen.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi Sumatera Barat relatif kuat pada periode 2016–2019, mengalami kontraksi pada 2020 akibat pandemi, kemudian kembali tumbuh sejak 2021 hingga mencapai 4,62 persen pada 2023, sebelum melambat menjadi 4,36 persen pada 2024 dan 3,37 persen pada 2025.
BPS mencatat bahwa PDRB Sumatera Barat atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp352,19 triliun, sementara pertumbuhan 2025 melambat dibandingkan 2024. Data sepuluh tahun ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik, tetapi gambaran mengenai kemampuan daerah mempertahankan aktivitas produksi, konsumsi, investasi, perdagangan, dan produktivitas masyarakat sekaligus menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.
Pencapaian satu dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat menunjukkan adanya resiliensi ekonomi yang memaksa mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, konsisten, inklusif, dan berkualitas agar pertumbuhan PDRB benar-benar bertransformasi menjadi peningkatan produktivitas, kesempatan kerja, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dalam dekade terakhir diharapkan mampu keluar dari tren perlambatan historis—dari kisaran 5,55 persen pada 2017 menurun ke angka -1,61 persen pada 2020 menuju pemulihan yang inklusif di atas 4 persen.
Target utama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dalam dekade terakhir (2015–2026) diarahkan untuk mencapai angka pertumbuhan tinggi hingga 6,4-7,3 persen, memperkuat diversifikasi sektor di luar pertanian murni, serta menjaga tingkat ketimpangan atau rasio gini yang rendah di bawah 0,3 melalui pemerataan ekonomi kerakyatan.
Arah target dan angka sasaran pertumbuhan berdasarkan dokumen perencanaan daerah dan evaluasi ekonomi, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bertahap hingga kisaran 6,4% sampai 7,3%. Realisasi pada dekade ini sempat menghadapi tantangan fluktuasi dan tren pelambatan (bergerak di kisaran 3%–5%). Disamping itu mempertahankan ketimpangan pendapatan yang rendah. Sumbar konsisten mempertahankan rasio gini di kisaran 0,282–0,283 (masuk jajaran terendah secara nasional).
Perjalanan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat selama satu dekade terakhir hendaknya menjadi pijakan untuk membangun ekonomi daerah yang lebih kuat, adaptif, dan berdaya saing pada dekade mendatang.
Harapannya, Sumatera Barat tidak hanya mampu mengembalikan dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan pertumbuhan yang berkualitas melalui penguatan sektor unggulan, peningkatan investasi, hilirisasi produk lokal, pengembangan UMKM, pariwisata, ekonomi digital, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pertumbuhan ekonomi juga diharapkan semakin merata antarwilayah dan mampu membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menekan kemiskinan dan kesenjangan.
Dengan kebijakan yang berbasis data, kolaborasi pemerintah dan masyarakat, serta pengelolaan potensi daerah secaracinovatif dan berkelanjutan, Sumatera Barat diharapkan mampu memasuki dekade berikutnya dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil, inklusif, tangguh, dan benar-benar bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis















