Web Hosting
Web Hosting
Opini

Performa Semen Padang FC di BRI Super League 2025/26, Analisis Singkat Jelang Pekan ke-30

32
×

Performa Semen Padang FC di BRI Super League 2025/26, Analisis Singkat Jelang Pekan ke-30

Sebarkan artikel ini

Oleh Romelton

Semen Padang FC sedang terluka. Lagi. Dan untuk kesekian kalinya dalam satu musim, raungan khas suporter Semen Padang FC yang dulu menggema di Stadion Haji Agus Salim, berganti menjadi keheningan yang menusuk.
‎Pekan ke-30 BRI Super League 2025/26 baru saja berlalu Kekalahan demi kekalahan beruntun membawa tim kebanggaan Ranah Minang Kabau Sirah ke jurang degradasi.

 

 

Bagi masyarakat Sumatera Barat, ini bukan sekadar soal sepak bola. Ini tentang kenangan, harga diri, dan setia sebuah kata yang dulu menjadi identitas suporter SPFC.

Catatan performa Semen Padang FC musim 2025/26 ini bisa dibilang salah satu yang terburuk dalam sejarah klub. Memasuki pekan ke-30, SPFC telah menelan 19 kali kekalahan dari 29 pertandingan yang sudah dijalani . Itu berarti, lebih dari separuh laga musim ini berakhir dengan kepahitan.

Tren buruk ini semakin mengkhawatirkan saat memasuki bulan April 2026. Kabau sirah alami lima kekalahan beruntun yang membuat posisi Kabau Sirah makin terbenam di zona merah.

Kekalahan beruntun yang dialami SPFC menjelang pekan ke-30:
‎Ke-27(Persis Solo-1-2 Tandang)
‎Ke-28Persijap Jepara0-2Kandang
‎Ke-29Borneo FC0-3Tandang
‎Ke-30Madura United0-1Kandang

Kebobolan tiga laga terakhir saja mencapai 6 gol tanpa balas. Yang lebih menyakitkan, dua dari tiga kekalahan itu terjadi di hadapan pendukung sendiri di Stadion Haji Agus Salim.

 

“Apa yang kita inginkan tak tercapai. Kecewa pasti. Suporter, pemain, semua kecewa dan semua sudah perbaiki attacking, defending, transisi.” ujar Pelatih Imran Nahumarury usai Kabau Sirah dibungkam Persijap Jepara 0-2 di GOR Haji Agus Salim 20 April 2026 lalu.

 

Kekecewaan itu berlanjut. Bahkan setelah lima kekalahan beruntun, Imran dengan jujur meminta maaf kepada seluruh suporter dan masyarakat Sumatera Barat.

Krisis panjang tak lepas dari dinamika di bangku kepelatihan. Pada awal Maret 2026, manajemen SPFC mengambil keputusan dramatis memecat Dejan Antonic. Pelatih asal Serbia itu dipecat hanya berselang beberapa jam setelah Kabau Sirah bermain imbang 0-0 melawan PSIM Yogyakarta di kandang sendiri. Keputusan ini sontak mengejutkan. Manajemen melalui pernyataan resmi menyebut hasil imbang tersebut “sangat mengecewakan” dan “menjadi bahan evaluasi serius”.

 

Hasil yang sangat mengecewakan pada pertandingan hari ini menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen. Untuk itu, manajemen memutuskan melakukan pergantian pelatih demi perbaikan dan peningkatan performa tim ke depan kata Penasihat Tim Semen Padang FC, Andre Rosiade

Dejan Antonic sendiri sebenarnya sempat mengungkapkan kekecewaannya atas penyelesaian akhir anak asuhnya. Namun apalah daya, dominasi tanpa gol tidak pernah cukup di sepak bola profesional. Manajemen bergerak cepat dan menunjuk Imran Nahumarury sebagai pelatih kepala baru.

Harapan pun digantungkan pada pelatih baru. Tapi kenyataan berkata lain. Di bawah asuhan Imran, justru catatan lima kekalahan beruntun yang terukir. Satu per satu lawan datang dan pergi dengan membawa pulang poin dari Stadion Haji Agus Salim.

Kini, Semen Padang hanya mengoleksi 20 poin dari 30 pertandingan dan masih tertahan di peringkat ke-17 . Dengan menyisakan empat laga lagi, peluang untuk keluar dari zona degradasi dihitung sangat tipis.Secara kalkulasi matematika memang demikian (dekat dengan degradasi). ‎

Tapi di balik semua angka dan statistik, ada satu yang lebih dalam dari sekadar papan klasemen kenangan tentang suporter yang dulu begitu angker.

 

Masyarakat Sumatera Barat dan pencinta sepak bola nasional tentu tak akan melupakan bagaimana dulu Stadion Haji Agus Salim begitu ditakuti lawan-lawannya. Bukan hanya karena kualitas tim, tetapi karena ribuan suporter yang datang dengan setia mendukung di saat tim menang maupun kalah.

 

Namun akhir-akhir ini, Gor Haji Agus Salim Padang terasa tak lagi sama. Kini, Semen Padang FC sendiri lagi, tak ada suara gemuruh, bunyi terompet dan dentuman gendang di stadion Agus Salim, Padang. Selama beberapa dekade tim kebanggaan urang awak ini selalu tampil dengan dukungan suporter katanya fanatik. Sekarang mereka sudah pergi dan tinggalkan pemain berjuang sendiri menghadapi kompetisi yang keras.

 

Padahal, sejarah mencatat bagaimana suporter Semen Padang rela melakukan apa pun untuk tim kebanggaannya. Kisah almarhum wartawan senior Zatako yang dipukuli pendukung PSDS Deli Serdang di Lubuk Pakam karena dianggap “dukun punya kesaktian” saat mendukung SPFC, adalah salah satu legenda yang menunjukkan bagaimana fanatisme tak kenal kompromi .

Dulu, suporter datang ketika tim menang. Dan yang lebih penting, mereka tetap setia ketika tim kalah. Tapi kini, kekalahan beruntun seolah menjadi ujian iman.

Apakah mereka benar-benar pergi? Atau justru diam merenung di sudut-sudut tribun yang sepi, menahan tangis melihat tim kebanggaannya terlunta-lunta di jurang degradasi.

Cerita klasik itu kembali relevan hari ini: “Harusnya, disaat pemain dalam posisi sekarat kita jangan tinggalkan mereka. Tetap dukung dan berikan motivasi. Karena suntikan motivasi itulah obat mujarab.”

Mungkin kini saatnya menanyakan diri sendiri kemana para suporter angker itu? Apakah mereka akan kembali jika SPFC selamat atau justru mereka yang akan memulihkan SPFC dengan kehadiran mereka?

Meskipun banyak yang pergi, masih ada beberapa kelompok suporter yang bertahan. Kelompok-kelompok seperti The Kmers, Spartacks, UWS 1980, dan Padang Fans masih tercatat aktif mendukung. Mereka mungkin tidak sebanyak dulu dan sorakannya tak lagi menggema sekencang dahulu, tetapi setidaknya mereka setia di dalam suka dan duka.

Manajemen klub juga berusaha merangkul para pendukung. Penasihat tim Andre Rosiade menggelar pertemuan dengan puluhan suporter di Rumah Makan Silungkang untuk memperbaiki komunikasi antara manajemen dan basis pendukung.

“Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi hari ini. Kami sebagai penasihat meminta manajemen baru agar rutin berkomunikasi dengan suporter supaya tidak ada lagi sumbatan komunikasi,” kata Andre dalam pertemuan yang berlangsung pada November 2025 tahun lalu.

Tapi apakah silaturahmi cukup? Suporter butuh kebanggaan, bukan sekadar janji. Mereka butuh melihat tim kesayangan mereka kembali menunjukkan taringnya, setidaknya semangat juang yang tak kenal menyerah. Bukan sekadar hasil akhir.

Kini, harapan itu tertumpu pada sisa empat laga terakhir. Mungkin secara matematis peluang tipis. Tapi di sepak bola, seperti halnya hubungan antara Semen Padang dan suporternya, hal-hal ajaib bisa terjadi jika ada kepercayaan yang tersisa.

Atau jika tidak, setidaknya semua pihak bisa belajar bahwa kesetiaan tidak diukur saat tim berada di puncak, melainkan saat mereka jatuh dan butuh tangan untuk bangkit kembali.

‎Itulah kenangan tentang suporter angker Semen Padang yang tak akan pernah benar-benar lenyap dari ingatan kita. Meskipun stadion hening, cerita tentang mereka akan terus bergema.

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis