Web Hosting
Web Hosting
Berita

Raket Kecil dan Mimpi Besar Alesha dari Hall Banuaran

30
×

Raket Kecil dan Mimpi Besar Alesha dari Hall Banuaran

Sebarkan artikel ini

Padang, PilarbangsaNews

Di antara riuh suara penonton dan bunyi sepatu yang bergesek di lantai lapangan, seorang anak perempuan berdiri sambil menahan napas. Tangannya menggenggam raket lebih erat dari biasanya. Matanya menatap lurus ke seberang net. Di hadapannya, lawan terakhir menunggu. Di belakangnya, harapan banyak orang ikut berdiri.
Namanya Alesha Yasmin R.

 

 

Siswi SDN 04 Pasa Gadang itu masih kecil. Tubuhnya mungil, wajahnya polos, dan senyumnya mudah merekah. Namun siang itu di Hall Banuaran, Kamis, 16 April 2026, ia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar dari usianya: keberanian.

 

Alesha tampil pada final cabang badminton Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Sebelum sampai ke partai puncak, ia lebih dulu melewati lawan-lawan tangguh dari SD Kalam Kudus, SD Tirtonadi, dan SDN 35. Setiap kemenangan membawanya selangkah lebih dekat ke mimpi yang mungkin belum lama ia kenal: menjadi juara.

 

Namun final selalu punya cerita berbeda. Di seberang net, wakil SDN 39 Padang Selatan siap memberi perlawanan. Rally demi rally berlangsung panjang. Shuttlecock melayang cepat, jatuh tajam, lalu terangkat lagi. Beberapa kali Alesha tampak tertekan. Ia mundur, membungkuk, lalu mengambil napas dalam-dalam.

 

Di pinggir lapangan, dua gurunya tak henti memberi semangat. Hari Prasetyo dan Dikki tahu, di usia seperti itu, lawan terbesar bukan pemain di seberang net. Lawan terbesar adalah gugup, takut, dan ragu pada diri sendiri. Tetapi Alesha memilih melawan semuanya.

 

Ia bangkit merebut set pertama 21-17. Saat set kedua dimulai, langkahnya berubah. Lebih ringan. Lebih yakin. Pukulannya mulai menemukan sudut-sudut lapangan. Lawan dipaksa berlari, bertahan, lalu menyerah. Skor 21-12 menutup pertandingan.

 

Sesaat setelah poin terakhir, Alesha diam. Seolah belum percaya semuanya telah selesai. Lalu senyum perlahan muncul. Piala diserahkan ke tangannya. Ia memeluknya erat, seperti takut mimpi itu lepas kembali.

 

“Saya sangat senang dan tidak menyangka bisa menang. Lawan di final tadi sangat kuat, tapi saya terus ingat pesan guru dan orang tua untuk tetap fokus dan jangan menyerah,” ucapnya.

 

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan siapa dirinya. Ia bukan hanya anak yang pandai memukul shuttlecock. Ia adalah anak yang mau mendengar nasihat, mau berlatih, dan mau bertahan saat keadaan sulit.

 

Bagi banyak orang, trofi itu mungkin hanya benda logam yang akan dipajang di lemari sekolah. Namun bagi Alesha, trofi itu adalah bukti bahwa anak dari Pasa Gadang pun bisa berdiri paling depan.

 

Kemenangan itu kini membawanya menuju O2SN Tingkat Kota Padang. Tantangan berikutnya tentu lebih berat. Lawan lebih cepat, lebih kuat, dan lebih berpengalaman.

 

Tetapi Hall Banuaran telah memberi satu pelajaran penting hari itu. Bahwa raket kecil di tangan seorang anak bisa memukul jauh lebih besar dari sekadar shuttlecock. Ia bisa memukul keraguan, menembus batas, dan mengantar mimpi terbang setinggi-tingginya. (Gilang)