Web Hosting
Web Hosting
Berita

YKCS Siap Operasikan Dapur MBG, Targetkan 3.000 Porsi Per Hari

363
×

YKCS Siap Operasikan Dapur MBG, Targetkan 3.000 Porsi Per Hari

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews

Yayasan Kolaborasi Cipta Sejahtera (YKCS) terus memperkuat perannya dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, yang dari awal Januari 2025 yayasan ini telah menyiapkan tiga dapur produksi makanan bergizi yang akan melayani ribuan penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.

 

 

Pendiri YKCS, Syafril Koto, menjelaskan bahwa dapur yang berlokasi di Simpang Baru #008, Kecamatan Binawidya, merupakan dapur kedua yang akan segera beroperasi. Sebelumnya, dapur pertama di Duri telah berjalan selama dua bulan. Sementara itu, dapur ketiga yang berlokasi di Tuah Karya #0012 saat ini telah menyelesaikan tahap uji coba dan persiapan operasional.

 

“Insya Allah, dapur Simpang Baru dan dapur Tuah Karya akan mulai beroperasi penuh pada 8 Januari 2026. Keduanya akan langsung mendistribusikan makanan kepada para penerima manfaat,” ujar Syafril pada Selasa, 30 Desember 2025.

 

Pada tahap awal, setiap dapur ditargetkan memproduksi sekitar 1.200 porsi makanan per hari. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas maksimal sekitar 3.000 porsi per hari, seiring dengan kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia.

 

Syafril menegaskan bahwa seluruh dapur telah dirancang sesuai standar kelayakan operasional. Fasilitas yang tersedia meliputi ruang SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia), ruang ahli gizi, ruang akuntan, area penyimpanan bahan basah dan kering, ruang memasak, pencucian ompreng, hingga area pengemasan.

 

“Alhamdulillah, seluruh fasilitas dapur sudah ditinjau dan disurvei oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan dinyatakan layak beroperasi,” kata Syafril.

 

Dari sisi tenaga kerja, YKCS mempekerjakan 47 orang pekerja, seluruhnya direkrut dari warga setempat dan lingkungan sekitar dapur. Selain itu, terdapat tiga tenaga pendamping dari BGN, yakni SPPI, ahli gizi, dan akuntan, yang bertugas memastikan kualitas gizi, tata kelola, dan administrasi berjalan sesuai standar.

 

Menanggapi isu yang belakangan ramai terkait dugaan keracunan makanan dan temuan belatung yang tidak layak konsumsi di sejumlah dapur MBG di daerah lain, Syafril menegaskan bahwa pihaknya menerapkan pengawasan ketat sejak awal.

 

“Setiap bahan makanan yang masuk kami periksa secara menyeluruh. Hanya bahan yang benar-benar layak konsumsi yang digunakan. Proses memasak dilakukan dengan standar steril, begitu juga dapur dan seluruh tenaga kerja,” tegas Syafril.

 

“Ini merupakan langkah pencegahan yang menjadi komitmen yayasan untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan keamanan pangan bagi anak-anak penerima manfaat,” tutupnya.

 

Kehadiran SPPG Dapur MBG Simpang Baru #008 ini mendapat apresiasi Pemerintah kota Pekanbaru melalui Camat Binawidya, Indah Vidya Astuti, S.STP. Fasilitas ini dinilai menjadi solusi strategis dalam mendukung kebutuhan makan bergizi gratis bagi ribuan murid di wilayah sekitarnya.

 

Camat menyampaikan bahwa operasional SPPG tersebut diproyeksikan mampu menjangkau lebih dari 2.000 penerima manfaat, mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, hingga SMA dan SMK.

 

“Dengan hadirnya SPPG Dapur MBG Simpang Baru #008 ini, kebutuhan makan bergizi gratis bagi murid-murid di sekolah sekitar dapat semakin terpenuhi. Ini tentu menjadi langkah nyata dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak kita,” ujarnya Camat Binawidya.

 

Dari hasil peninjauan langsung ke lokasi dapur, Indah menegaskan bahwa pengelolaan SPPG telah memenuhi standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Selain itu, dapur MBG ini juga telah mengantongi perizinan yang ketat sebagai bentuk jaminan keamanan dan kualitas pangan.

 

“Secara keseluruhan, dari sisi kebersihan, pengolahan makanan, hingga manajemen dapur, sudah sesuai SOP. Perizinannya pun jelas dan ketat, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Camat Binawidya berharap keberadaan SPPG ini tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak-anak, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar. Ia mendorong agar tenaga kerja non-keahlian dapat melibatkan masyarakat lokal.

 

“Kedepan, saya berharap para pekerja di dapur ini bisa melibatkan warga sekitar, misalnya untuk pekerjaan kebersihan, keamanan, atau tugas lain yang tidak memerlukan keahlian khusus. Dengan begitu, masyarakat merasa memiliki dan ikut menjaga keberlangsungan SPPG ini,” tuturnya.

 

Ia juga menitipkan pesan moral kepada seluruh pengelola dan ketua SPPG agar menjalankan program ini dengan penuh tanggung jawab dan hati nurani.

 

“Anggaplah kita sedang memberi makan anak sendiri. Kalau memberi makan anak kita tentu yang terbaik, bukan asal-asalan. Prinsip itu yang harus dipegang oleh seluruh pengelola,” pesan Camat Binawidya. (Mirza)