Padang, PilarbangsaNews
Wartawan Harian Singgalang, Lenggogeni, tampilkan aksinya membacakan puisi karyanya ‘Bukittinggi, Perempuan dan Kenangan‘, ketika penyambutan para delegasi Internasional Minangkabau Literacy Festival ke-4 (IMLF4) di Ruang Tunggu, Stasiun Kereta Api Indonesia (KAI) di Bandara Internasional Minangkabau (Minangkabau International Airport/MIA), Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam ‘Luggage of Poetry Train Station’ ia tak sendiri, melainkan berparade bersama para penyair dunia, sang delegasi dari negaranya sebagai peserta IMLF4, bertepatan perayaan 100 tahun Jam Gadang.
Para pembaca puisi itu adalah Endut Ahadiyat (Indonesia), Eva Mulusia (Indonesia), Roymon Lemsol (Indonesia), Marniyetti (Indonesia) Hassana Abdullah (USA), Mai White (Australia) Maja Panajotova (Bulgaria), Michelle Alexandra (Columbia), Ludmilla (Netherlans), Sankha Subhira D (India), Sekolah Seni Perak (Malaysia) dan Yumiko Otomasu (Jepang).
Semua delegasi yang terdiri dari penulis, seniman, sastrawan hingga penyair dari berbagai latar belakang pendidikan itu merasa terhibur sekaligus bangga. Sebab, mereka disambut pakaian adat Minang oleh ibu-ibu cantik yang tergabung dalam Bundo Kandung Berbudaya dan Berkesenian (BKBB).
Mereka sedari pagi, sudah siap-siap dengan pakaian berwarna serba merah, biru hingga kuning lengkap dengan kepala suntiang. Begitu juga dengan Cik Uniang dan Cik Ajo Kabupaten Pariaman pun tak ketinggalan lengkap dengan pakaian adatnya. Relawan tak ketinggalan seksi sibuk menuntun secara maksimal agar delegasi nyaman selama IMLF-4 berlangsung.
Rasa kagum pun, para delegasi terlihat ketika mereka menampilkan aksi tarian penyambutan tamu ke ranah minang. Diiringi alat musik talempong dan kepiawaan dari bundo kandung menari beberapa menit telah tak mampu mengalihkan pandangan decak kagum para delegasi.
Aksi penyambutan bertambah ‘power full’ ketika petugas dari KAI di Stasiun Bandara sibuk semaksimal agar para delagasi terkesan.
Usai prosesi penyambutan dengan para pembacaan puisi, para delegasi ‘diboyong’ ke Bukittinggi. Mereka mengikuti serangkaian kegiatan yang telah disiapkan sedari 3 – 7 Juni. Termasuk, menjadi saksi perayaan 100 tahun jam Gadang, ikon Bukittinggi kota wisata.
“IMLF-4 tahun ini sungguh istimewa, karena bertepatan perayaan 100 tahun jam gadang. Di saksikan dan dinikmati dengan penuh suka cita para peserta yang berasal dari 35 negara di dunia. Perayaannya tambah menarik dengan kehadiran para dubes dari Belanda, Bulgaria, Rusia dan Inggris,” ucap Ketua IMLF Sastri Bakry.
Selama lima hari tersebut, akan ada pameran buku, seminar, workshop, kunjungan wisata, peluncuran buku, pertunjukan puisi. Dimulai dari dari stasiun kereta api di Bandara Internasional Minangkabau hingga puncaknya di bawah jam Gadang Bukittinggi.
Pembicaara hebat dan profesional menjadi narasumber dalam seminar selama IMLF-4 berlangsung. Selain itu, seperti biasa akan ada literasi award yang diberikan kepada para penulis, sastrawan yang ada di ranah minang maupun luar negeri.
Lebih lanjut dijelaskan Sastri Bakry, kalau IMLF ini tujuannya menyuarakan minang ke pentas dunia. “Dengan cara tidak harus ke luar negeri, karena saya hampir 50 membawa misi kebudayaan melalui Satupena dan Sumbar Talenta. Orang luar negeri senang melihat pertunjukan kita, membacakan puisi, pakaian kita nan warna warni. Setiap pertunjukan kita mendapatkan perhatian khusus, sehingga mereka bertanya Sumbar itu dimana. Sebab, selama ini mereka hanya tahu Bali. Mereka ingin melihat Sumbar. Hal itulah yang mendasari kita membuat kegiatan sebesar ini,” ucap Sastri Bakry yang merasakan bangga, karena setiap tahun para delegasi perwakilan negara di dunia selalu bertambah dan disambut antusias.
Untuk IMLF-1 pada 2023 hanya 12 negara yang ikut serta. Pada 2023, IMLF-2, jumlah delegasinya bertambah menjadi 17 negara yang datang ke ranah minang. Selanjutnya, pada IMLF-3 di Padang pada 2025, ada delegasi yang berasal 24 negara di dunia. Dan pada 2026, 35 negara mengirimkan delegasinya untuk ikut serta dalam kegiatan bertaraf internasional ini. Dengan total keseluruhan pesertanya 250 orang penulis, sastrawan dan seniman. (Gilang)













