Web Hosting
Web Hosting
Berita

Langit Biru Cerah di Atas Ranah Minang Pasca Gerhana Bulan Total

413
×

Langit Biru Cerah di Atas Ranah Minang Pasca Gerhana Bulan Total

Sebarkan artikel ini

Padang, PilarbangsaNews

 

 

Pasca gerhana bulan Minggu (7/9/2025) tadi malam, pada hari Senin (8/9/2025) pagi hingga siang ini langit di Ranah Minang terlihat bersih. Biru benar. Nyaris tidak ada awan yang berwarna putih menyungkup warna biru itu. Ada awan putih tapi hanya sedikit.

 

“Langit bersih sehabis gerhana bulan, jernih. Terlihat jelas sekujur Gunung Marapi, juga terlihat abu kepundannya yang berderai dilarikan angin,” tulis Khairul Jasmi (60) seorang budayawan Sumbar yang melintas dari Padang Panjang menuju Tanah Datar via WhatsApp.

 

Menurut Khairul Jasmi, langit yang bersih tanpa awan memberikan suasana kesejukan pada hati. Apalagi melihat para petani dengan riang menyiangi sawah dan ladangnya. Keceriaan itu juga terlihat di kedai sarapan pagi yang ada di seputaran Kota Padang Panjang.

 

Keindahan langit terlihat dalam perjalanan dari Padang Panjang menuju Tanah Datar. (Foto Press Kj)

 

Apakah ada hubungan langit yang bersih dari awan ini dengan peristiwa astronomi gerhana bulan total (GBT) yang terjadi semalam? Entahlah, belum ada yang bisa memberikan penjelasan.

 

“Entah ada hubungan dengan gerhana bulan semalam atau tidak, yang jelas langit Ranah Minang bersih dari awan hari ini, membiru benar, senang hati memandangnya,” kata Khairul Jasmi, mantan Komisaris PT Semen Padang (Persero) ini.

 

Memang tadi malam, Minggu 7 September 2025 terjadi gerhana bulan total. Gerhana bulan kali ini menampilkan pemandangan menakjubkan, ketika bulan purnama berubah warna menjadi merah tembaga atau yang dikenal dengan sebutan blood moon.

 

Fenomena ini dapat disaksikan jelas dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Cuaca cerah tadi malam membuat warga berkesempatan menyaksikan peristiwa langit langka tersebut tanpa halangan berarti.

 

Gerhana bulan tanggal 7 September 2025 ditangkap dengan kamera HP Huawei. (Foto Press Kj)

 

Gerhana bulan total terjadi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan. Posisi itu membuat cahaya matahari yang seharusnya menyinari bulan tertutup oleh bumi. Namun, sebagian cahaya matahari masih mampu menembus atmosfer dan membiaskan warna merah, sehingga bulan tampak seperti bola bercahaya tembaga di angkasa.

 

Fenomena blood moon tidak hanya menghadirkan pengalaman visual yang menakjubkan, tetapi juga menjadi momen edukatif bagi masyarakat untuk semakin mengenal keindahan dan dinamika alam semesta.

 

Gerhana Bulan Total 7-8 September 2025 yang terlihat di seluruh wilayah Indonesia merupakan gerhana dengan durasi terlama. Fenomena serupa bakal terulang kembali pada Maret 2026. Insya Allah. (gk)