Web Hosting
Web Hosting
Berita

Festival Pekan Nan Tumpah 2025: Saat Seni Murni, Terapan, dan Seni Terserah Menyatu

313
×

Festival Pekan Nan Tumpah 2025: Saat Seni Murni, Terapan, dan Seni Terserah Menyatu

Sebarkan artikel ini

Padang, PilarbangsaNews

 

 

Kota Padang kembali merayakan seni dengan penuh semangat lewat Festival Pekan Nan Tumpah 2025. Perhelatan ini berlangsung di Fabriek Padang pada 24–30 Agustus dan menghadirkan beragam kegiatan. Dengan mengusung tema “Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah; Kalau Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham”, festival ini menegaskan pentingnya ruang bagi eksperimen seni lintas disiplin.

 

Direktur Festival, Mahatma Muhammad, menyampaikan bahwa Pekan Nan Tumpah lahir dari komunitas dan kini memasuki usia 14 tahun. Ia menegaskan festival ini tumbuh dari akar lokal dan mampu bertahan melewati perjalanan panjang. “Kami bangga festival yang lahir dari halaman rumah ini bisa tetap hadir. Tahun ini terasa luar biasa setelah tujuh tahun perjalanan tanpa henti,” ungkap Mahatma saat Taklimat Peluncuran Festival di Fabriek Padang, Rabu (20/8/2025).

 

Proses panjang festival berlangsung sejak Maret hingga Agustus melalui tujuh seri Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Lebih dari 140 peserta lintas latar belakang mengikuti diskusi. Hasil rangkaian pertemuan itu kemudian dirangkum dalam sebuah buku yang diluncurkan pada hari pertama festival. Supervisor festival, Nasrul Azwar, mengakui proses tersebut menghadirkan banyak kejutan. “Survei mini membuktikan ikatan emosional terhadap Nantung Pah sangat kuat. Hanya seperempat responden yang merasa tidak begitu dekat,” jelasnya.

 

Dari sisi pameran seni rupa, kurator Nessya Fitryona menampilkan 13 karya dari seniman lintas generasi. Karya maestro Bodi Dharma dan Kamal Guci dipamerkan berdampingan dengan karya perupa muda, M. Satyo, yang masih duduk di bangku SMP. Menurut Nessya, karya yang hadir tidak hanya berupa lukisan dua dimensi, tetapi juga instalasi, karya tiga dimensi, bahkan karya berbasis kecerdasan buatan. “Yang menarik, ada peserta dari bidang non-seni seperti optometri yang menghadirkan instalasi melalui sistem open call. Inilah semangat seni terserah,” ucap Nessya.

 

Wartawan media mengikuti jumpa pers Festival Pekan Nan Tumpah 

 

Selain pameran, ranah pertunjukan seni juga tampil memikat. Kurator pertunjukan, Jumaidil Firdaus, menyebut kelompok Kertas Jurang dan Api-api menafsirkan ulang tradisi dalam bentuk baru. Taufik Adam mengajak penonton melihat bunyi sekaligus mendengar visual. Ada pula Jaguang dengan gaya eksentrik, komunitas Bisik 21 Hari yang mengeksplorasi teater fisik, hingga Kamarkos yang memadukan pameran dengan laku pertunjukan. “Sebagian besar penampilan akan memberi teror artistik, baik lewat visual, dialog, maupun musik,” tegas Jumaidil.

 

Sementara itu, kurator pertunjukan eksibisi, Angelique Maria Cuaca, menyoroti kreativitas dari kelompok yang berangkat dari keterbatasan. Ia mencontohkan kelompok Utraveni asal Gunung Talang, Solok, yang memanfaatkan dandang sebagai instrumen musik. “Mereka berangkat dari kondisi minim, tetapi justru mampu membangun energi rumah yang kreatif,” ujarnya. Angelique juga menyoroti Sekolah Penerbangan Nusantara yang meski berdisiplin semi-militer, tetap berhasil melahirkan karya seni.

 

Eksibisi juga melibatkan 10 komunitas tradisi, dari tari Mentawai hingga Tonel Sawahlunto. Festival ini bahkan menghadirkan HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) sebagai instruktur workshop seni. “Kami ingin menegaskan isu disabilitas bukan soal kasihan, melainkan soal kesempatan yang setara,” tambah Angelique.

 

Dengan total 17 kelompok eksibisi, 16 pertunjukan seni, serta 38 pameran karya visual, Pekan Nan Tumpah 2025 menjadi ruang pertemuan berharga. Tradisi, seni modern, dan seni eksperimental bertemu dalam satu perayaan besar. Mahatma berharap festival ini mampu melahirkan generasi baru pecinta seni di Sumatera Barat. “Seni tumbuh dari banyak arah. Saat semua suara diberi ruang, kita akan menemukan banyak kemungkinan baru,” pungkasnya. (Gilang)