Oleh : Syamsul Azwar (Sekretaris SMSI Kabupaten Solok)
Solidaritas dan semangat gotong royong menjadi warisan leluhur orang Minangkabau yang tak lenyap ditelan waktu dan tak lekang digerus zaman. Kekuatan/rasa ini seakan melekat dalam individu putra-putri berdarah Minang, telah menjadi darah daging secara turun menurun. Empati yang terbilang dahsyat ini mampu membangkitkan semangat menghadapi banjir bandang yang menerjang Arosuka pertengahan September lalu.
Bencana banjir bandang yang melanda kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 21 September 2026 meninggalkan duka lara mendalam bagi masyarakat. Persawahan, perkantoran, rumah yang hancur diterjang bencana, di tengah kerusakan dan kesulitan yang ditimbulkan, namun semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong menjadi kekuatan penting dalam menghadapi masa masa tersulit.
Hasil pantauan penulis ada kandungan nilai nilai spiritual selama tanggap bencana yang sulit diungkapkan dengan kata kata. Yaitu berbagi di tengah duka.
Sehari pasca bencana yang menyisakan material lumpur, batu batu besar, dan kayu kayu serta puing puing berserakan diantara gedung gedung, hunian masyarakat dan membelintang di jalanan sepanjang daerah yang menjadi aliran bencana banjir bandang. Ratusan warga berdampak, ada sebagian yang terisolasi dan fasilitas umum mengalami kerusakan, dan aktivitas masyarakat terganggu.
Bencana nahas malam itu tak saja menimbulkan kerugian, materi yang cukup besar, tapi juga merenggut dua nyawa warga, beberapa orang warga juga luka berat dan luka luka ringan.
Di beberapa daerah terparah dihempas bencana, trauma masyarakat yang selamat masih memancarkan aura ketakutan. Namun, di balik musibah tersebut, nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial tetap menjadi harapan. Berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, petugas gabungan, relawan, hingga masyarakat, hampir dari semua penjuru ranah minang ini ikut melibatkan diri, dalam upaya penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Dalam sepekan lokasi lokasi bencana berobah menjadi lautan manusia, mereka bukanlah berwisata, tapi berbagi tenaga dan membatu sesuai kemapuan masing-masing.
Posko-posko bencana mulai berdiri di berapa titik daerah yang terdampak bencana, sedangkan lokasi posko induk didirikan di lapangan parkir Kantor Bupati Solok diantara bangunan yang tertimbun tanah berlumpur longsoran, batu dan kayu kayu.
Lapangan parkir dipenuhi tenda-tenda dapur umum dari Dinas Sosial dan Kejaksaan Tinggi, Posko BPNB, tenda-tenda TNI AD dan AL.
Aparat Bertahan Hingga Tanggap Bencana Berakhir
Ratusan prajurit TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL) dan Polri dari jajaran Polres Solok dan Polda Sumbar kesatuan Brimob sampai hari terakhir perpanjangan tanggap darurat bencana banjir bandang Arosuka bertahan hingga akhir. Dengan seragam khususnya pasukan ini membantu pemulihan pembersihan perkantoran dan rumah-rumah masyarakat, dengan seragam lengkapnya menyatu berbaur relawan dari berbagai penjuru.
Selain membantu dengan tenaga kekarnya, aparat TNI dan Polri ini juga menghibur dan menyemangati masyarakat yang sedang dilanda trauma.
Kerjasama dilakukan melalui evakuasi, penyaluran bantuan, pembersihan material banjir, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga. Setiap upaya yang dilakukan menjadi bagian dari perjuangan bersama untuk memulihkan keadaan dan membantu masyarakat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Kebersamaan dalam menghadapi bencana bukan hanya terlihat dari bantuan berupa kebutuhan pokok maupun tenaga. Kehadiran, perhatian, dan dukungan moral juga memberikan arti besar bagi masyarakat yang sedang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian.
Kejaksaan Tinggi dan Kajari Menyiapkan Dapur Umum
Bantuan berdatangan dari berbagai penjuru. Penulis cukup geleng geleng kepala dan amat mengagumi arti kebersamaan atas musibah yang melanda, daerah yang telah menapak usia 113 tahun ini Kabupaten Solok menjadi perhatian dari berbagai pihak.
Barangkali ini pertama di Sumatera Barat dimana Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Solok ikut mendirikan Posko bencana menyiapkan dapur umum dengan mendatangkan ahli masak yang membangkit selera makan tim relawan dan tamu tamu yang berkunjung, termasuk penulis juga ikut menikmati sajian dapur umum milik kejaksaan ini, setidaknya menyeduh kopi hangat usai berkeliling.
Bantuan dari berbagi penjuru berdatangan, mulai dari masyarakat nagari-nagari di Kabupaten Solok, dari nagari daerah tetangga datang silih berganti. Lalu lintas di Posko induk Arosuka dan Posko dua nagari yang terdampak bencana, Nagari Batang Barus dan Guguak menjadi tempat tujuan bagi orang orang dermawan, kelompok, organisasi/lembaga dan para perantau Minang yang tak ada duanya untuk memberikan perhatian dan bantuannya saat sanak saudaranya menderita.
Bantuan Mengalir dari Pemerintah Nagari Hingga Pemerintah Pusat
Bencana Kabupaten Solok mendapatkan perhatian istimewa dari pemerintah, mulai dari pemerintah nagari, pemerintah daerah, bahkan ada dari luar Sumbar. Perhatian Gubernur dan Wakil Gubernur sejak terjadi bencana sangat memantaskan kita memberikan pujian, perbaikan infrastuktur yang rusak, pembangunan jembatan darurat demi kelancaran transportasi dikebut pengerjaannya tak mengenal gelap.
Begitu juga dari pemerintah pusat, kedatangan Wapres Gibran dan sejumlah menteri memberikan sebuah harapan segar, pemulihan bencana yang terjadi akan dapat berlalu dalam waktu yang singkat.
Ratusan miliar perkiraan kerugian rasa tak memberatkan bila melihat sebuah kebersamaan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, pepatah ini menjadi sandaran dan prinsip kehidupan yang melekat di jiwa bangsa timur ini.
Puluhan mobil Damkar berlalu lalang setiap hari harinya selama tanggap bencana, relawan Tim SAR, Tagana, BPPD dikirim oleh bupati/walikota di wilayah Sumatera Barat. Tak hanya itu, selain mengirim alat dan tim tangguh bencana juga mengalir bantuan keuangan khusus yang nilainya ratusan juta dari daerah-daerah tetangga.
Sehingga Bupati dan Wakil Bupati Solok saban hari selama tanggap bencana tak bisa jauh dari Posko bencana, ketika tamu yang datang antri memberikan ucapan dukanya.
Wartawan, Influenser, Facebooker dan Tiktoker Ikut Berkontribusi Besar dalam Tanggap Bencana
Keberadaan wartawan media cetak dan elektronik, influenser, facebooker dan tiktoker, kehadiran dan kegiatannya selama tanggap bencana juga tak bisa dipandang sebelah mata. Penyebaran informasi-informasi yang akurat, fakta-fakta yang aktual melalui siaran langsungnya juga sangat membantu banyak orang sampai keluar daerah mengetahui perkembangn dan kondisi masyarakat dan luluh lantaknya daerah yang terkena bencana.
Tak hanya itu, ketika proses pencarian korban yang belum ditemukan juga melalui informasi pekerja penyebar informasi ini, sehingga tugas tim dan relawan sangat terbantu dalam pencarian korban, termasuk saat korban ditemukan memberikan kabar kilat untuk orang orang yang butuh informasi.
Bantuan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)
Keberadaan pengurus SMSI di Sumatera Barat juga turut menampakkan kepedulianya, baik dari pengurus propinsi dan beberapa daerah di Sumatera Barat, melalui medianya masing cukup aktif dalam memberitakan dan menyebarluaskan informasi yang terkain bencana. Baik pengurus SMSI di daerah bencana, maupun daerah tetangga, seperti dari SMSI Bukittinggi malah turut menyerahkan bantuan Sembako melalui Posko bencana.
Sementara pengurus SMSI Kabupaten Solok yang diketuai Riswan Jaya, SH serta 12 orang pengurus dan anggotanya selalu siaga dan kompak mengawal perkembangan selama tanggap bencana berlangsung, berita berita bencana menjadi fokus utama media dan wartawannya.
SMSI tak semata berkontribusi melalui pemberitaan, tetapi ikut memberikan bantuan Sembako secara langsung kepada masyarakat yang terparah akibat musibah bencana.
Beberapa hari selama tanggap bencana, SMSI juga membagikan masker dalam mengantisipasi polusi udara di lokasi bencana dan akibat kabut asap yang terus meningkat.
Musibah ini menjadi pengingat bagi kita, bahwa ketika bencana datang, kepedulian tidak boleh ikut hanyut dan hancur bersama gedung gedung serta hanyut terseret banjir bandang.
Masyarakat yang terdampak bencana sangat membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, bukan hanya pada saat keadaan darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan rumah, lingkungan, mata pencaharian, dan kehidupan sosial serta rehabilitasi mental pasca bencana.
Pemulihan pascabencana membutuhkan waktu, kerja sama, serta komitmen dari berbagai pihak. Karena itu, semangat gotong royong perlu terus dijaga agar masyarakat terdampak tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi cobaan.
Dari kepedulian tumbuh kekuatan, dari gotong royong hadir harapan, dan dari solidaritas terbuka jalan untuk bangkit kembali. Sebab, bencana dapat meninggalkan kerusakan, tetapi tidak seharusnya memadamkan semangat untuk saling membantu dan membangun kehidupan yang lebih baik. Begitu indahnya sebuah kebersamaan.
*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis




















