Web Hosting
Web Hosting
Berita

Sudah Puluhan Tahun Warga Kampung Sitombol di Padang Gelugur Berharap Jembatan Permanen

×

Sudah Puluhan Tahun Warga Kampung Sitombol di Padang Gelugur Berharap Jembatan Permanen

Sebarkan artikel ini

Pasaman, PilarbangsaNews

Nasib warga Kampung Sitombol, Jorong Selamat, Nagari Sitombol, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman, seolah luput dari sentuhan pembangunan infrastruktur yang layak.

 

 

Selama puluhan tahun, masyarakat setempat terpaksa menyeberangi Batang Aia melalui jembatan darurat yang hanya terbuat dari batang pinang.

 

Rapuh, rawan hanyut saat banjir, dan mengancam keselamatan, jembatan sederhana itu hingga kini menjadi akses andalan warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

 

Kondisi ini bukan sekadar persoalan jembatan yang memprihatinkan, melainkan menyangkut keselamatan manusia dan kebutuhan dasar masyarakat. Di tengah keinginan untuk menjalani kehidupan secara aman dan nyaman, warga justru harus menghadapi risiko setiap kali melintasi jembatan yang jauh dari standar keamanan tersebut.

 

Jembatan batang pinang itu menjadi akses terdekat bagi masyarakat untuk menuju rumah, pergi ke kebun dan sawah, serta membeli kebutuhan sehari-hari.

 

Tanpa jembatan tersebut, warga harus menghadapi kesulitan mencari jalur alternatif untuk menyeberangi sungai.

 

Warga Sitombol, Fajri, Minggu (11/10/2026), mengungkapkan bahwa jembatan tersebut telah digunakan selama puluhan tahun.

 

Karena belum memiliki jembatan permanen, masyarakat bergotong royong membangun jembatan seadanya dengan memanfaatkan batang pinang.

 

“Sudah puluhan tahun kami menggunakan jembatan dari batang pinang ini. Kami membuatnya secara bersama-sama kalau tidak dibuat jembatan ini, kami mau lewat mana? Inilah satu-satunya akses terdekat untuk menyeberang,” ungkap Fajri.

 

Banjir Datang, Jembatan Hanyut, Warga Kembali Membangun

Penderitaan warga semakin terasa ketika musim hujan tiba, saat debit air Batang Aia meningkat dan banjir melanda, jembatan darurat tersebut kerap terbawa arus, warga pun kembali harus mengerahkan tenaga dan bergotong royong membangun jembatan dari batang pinang agar akses penyeberangan dapat digunakan kembali.

 

Situasi ini terus berulang jembatan yang dibangun dengan kemampuan dan sumber daya seadanya tidak mampu memberikan jaminan keamanan, terlebih ketika sungai meluap dan arus semakin deras.

 

“Kalau musim hujan dan terjadi banjir, jembatan ini bisa terbawa arus. Kami terpaksa membuatnya lagi dari pohon pinang. Begitulah keadaan yang kami alami selama ini,” ujar Fajri.

 

Kondisi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan jembatan permanen bagi masyarakat. Warga tidak seharusnya terus bergantung pada jembatan darurat yang sewaktu-waktu dapat rusak atau hanyut diterjang banjir.

 

Anak-Anak Turut Melintas, Keselamatan Menjadi Taruhan

Hal yang paling mengkhawatirkan adalah jembatan tersebut tidak hanya digunakan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Setiap hari, mereka turut melintasi jembatan yang kondisinya rawan demi menjangkau tempat tujuan.

 

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Fajri mengungkapkan, sebelumnya pernah terjadi seorang anak terjatuh ke sungai ketika melewati jembatan tersebut.

 

Beruntung, saat itu debit air tidak terlalu besar dan kejadian tersebut diketahui warga setempat sehingga pertolongan dapat segera diberikan.

 

Peristiwa itu menjadi peringatan serius bahwa kondisi jembatan tidak bisa terus dibiarkan tanpa penanganan. Apalagi, ketika hujan turun, risiko keselamatan semakin besar akibat permukaan yang licin serta kemungkinan meningkatnya debit dan derasnya arus sungai.

 

Warga tentu tidak ingin menunggu sampai terjadi kecelakaan yang lebih serius untuk mendapatkan perhatian. Keselamatan anak-anak dan masyarakat yang menggunakan jembatan setiap hari semestinya menjadi pertimbangan utama dalam upaya penyediaan infrastruktur yang layak.

 

Rp35 Juta, Harapan Besar bagi Masyarakat Sitombol

Di balik kondisi jembatan yang memprihatinkan itu, tersimpan harapan sederhana masyarakat: memiliki jembatan permanen yang kokoh, aman, dan tahan lama.

 

Berdasarkan perkiraan warga, pembangunan jembatan permanen dengan konstruksi beton diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp35 juta, dengan panjang kurang lebih 15 meter dan lebar 1 meter.

 

Angka tersebut merupakan perkiraan kebutuhan yang disampaikan masyarakat dan masih memerlukan kajian teknis serta perhitungan resmi dari pihak terkait.

 

Bagi warga Sitombol, pembangunan jembatan ini bukan semata-mata tentang beton dan konstruksi bangunan. Lebih dari itu, jembatan merupakan urat nadi aktivitas masyarakat yang menghubungkan tempat tinggal dengan kebun, sawah, serta berbagai kebutuhan kehidupan sehari-hari.

 

Fajri, salah seorang warga yang tinggal di sekitar jembatan mengaku masih harus melewatinya setiap hari, meskipun rasa takut kerap muncul saat berjalan di atas susunan batang pinang yang tidak memberikan kepastian keamanan.

 

“Setiap hari kami melewatinya. Kadang kami takut, tetapi bagaimana lagi? Inilah jalan alternatif yang paling dekat untuk membeli kebutuhan dan pergi ke tempat tujuan,” ujarnya.

 

Warga Menanti Perhatian Pemerintah

Masyarakat Kampung Sitombol berharap pemerintah nagari, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Pasaman, serta instansi terkait dapat meninjau langsung kondisi jembatan tersebut dan mencari solusi nyata.

 

Warga berharap usulan pembangunan jembatan permanen dapat diperjuangkan melalui mekanisme perencanaan dan penganggaran yang berlaku, sehingga akses penyeberangan yang aman tidak lagi sekadar menjadi impian.

 

Pembangunan jembatan permanen diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan, menjaga kelancaran aktivitas ekonomi warga, serta memberikan rasa aman bagi anak-anak dan masyarakat yang setiap hari melintasi Batang Aia.

 

Puluhan tahun bergotong royong membangun jembatan darurat, kini warga Sitombol menantikan hadirnya solusi permanen. Mereka tidak menuntut kemewahan, melainkan akses penyeberangan yang layak, aman, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Harapan masyarakat kini tertuju kepada pemerintah dan pihak terkait.

 

Jangan sampai jembatan batang pinang yang rapuh itu terus menjadi satu-satunya pilihan warga, sementara keselamatan mereka setiap hari berada dalam risiko.

 

Bagi masyarakat Sitombol, jembatan permanen bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kebutuhan mendesak untuk keselamatan, kelancaran ekonomi, dan masa depan generasi mereka. (Zul)