Oleh: Ir. Ulul Azmi, S.T., M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng. (Putra Asli Pasaman/Praktisi Keinsinyuran dan Keselamatan Publik)
Delapan puluh satu tahun Kabupaten Pasaman bukan sekadar perjalanan usia, tetapi momentum untuk bertanya: apa yang telah kita bangun, apa yang harus kita jaga, dan Pasaman seperti apa yang akan kita wariskan?
Pasaman bukan hanya tanah tempat kita berpijak. Gunung, hutan, sungai, tanah yang subur, adat, dan budaya adalah warisan sekaligus amanah bagi generasi berikutnya. Pembangunan harus terus bergerak, tetapi tidak boleh kehilangan keseimbangan dengan alam.
Semangat “Lestarikan Warisan, Wujudkan Masa Depan” sangat relevan dengan tantangan Pasaman hari ini. Saya mengapresiasi Bupati Pasaman Welly Suhery, S.T., yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. Sikap melawan perusakan lingkungan, termasuk illegal mining dan illegal logging, harus diperkuat menjadi gerakan bersama melalui pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten.
Sebagai praktisi keinsinyuran dan keselamatan publik, saya melihat persoalan lingkungan bukan semata persoalan hijau atau tidak hijaunya sebuah kawasan. Ini adalah persoalan risiko dan keselamatan masyarakat. Ketika tutupan hutan berkurang, daerah aliran sungai terganggu, lereng kehilangan kestabilannya, atau aktivitas pertambangan berlangsung tanpa kendali, maka risiko tidak hilang—risiko hanya berpindah kepada masyarakat.
Banjir, longsor, sedimentasi sungai, kerusakan jalan dan jembatan, hingga terganggunya sumber air dapat menjadi konsekuensi yang harus dibayar jauh lebih mahal daripada manfaat ekonomi sesaat.
Dalam prinsip keselamatan, pencegahan selalu lebih baik dan lebih murah daripada menangani akibat setelah kejadian. Karena itu, pembangunan Pasaman harus semakin berbasis risiko: tata ruang harus dipatuhi, kawasan rawan harus dipetakan, aktivitas berisiko harus diawasi, dan setiap pembangunan harus memperhitungkan dampaknya terhadap manusia serta lingkungan.
Pasaman tentu membutuhkan investasi, infrastruktur, lapangan pekerjaan, pertanian yang produktif, UMKM yang tumbuh, dan ekonomi yang bergerak. Namun pembangunan yang baik bukan sekadar cepat selesai atau terlihat megah. Dalam perspektif keinsinyuran, pembangunan harus aman, andal, bermanfaat, dan berkelanjutan.
Kita juga memiliki filosofi kuat melalui motto SAIYO: Sehat, Aman, Indah, Yakin, dan Optimis. Nilai tersebut sangat relevan dengan pembangunan berkelanjutan: lingkungan yang sehat, masyarakat yang aman, alam yang tetap indah, serta keyakinan dan optimisme terhadap masa depan daerah.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan berarti menolak pembangunan. Sebaliknya, pembangunan yang mengabaikan keselamatan dan lingkungan bukanlah kemajuan, melainkan memindahkan risiko kepada generasi berikutnya.
Di usia ke-81, pemerintah, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dunia usaha, akademisi, praktisi, generasi muda, perantau, dan seluruh masyarakat harus berada dalam semangat yang sama: membangun Pasaman tanpa merusak Pasaman.
Sebab ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa banyak yang berhasil kita bangun hari ini, tetapi seberapa kecil risiko yang kita tinggalkan dan seberapa besar manfaat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lestarikan warisan. Wujudkan masa depan. Jangan wariskan kerusakan.
Alam Terjaga, Pasaman Bangkit.
Selamat Hari Jadi ke-81 Kabupaten Pasaman.
*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis


















