Web Hosting
Web Hosting

Berita

Masjid Syech Muhammad Said Bonjol, Tonggak Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau

36
×

Masjid Syech Muhammad Said Bonjol, Tonggak Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau

Sebarkan artikel ini

Bonjol, PilarbangsaNews

Di kawasan Jorong Padang Baru, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, berdiri sebuah masjid yang memiliki arti penting dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah Pasaman, yaitu Masjid Syech Muhammad Said Bonjol.

 

 

Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai sejarah pendidikan Islam tradisional Minangkabau, khususnya perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah.

 

Data pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga mencatat masjid ini sebagai Masjid Syech H.M. Said di Jorong Padang Baru, Bonjol.

Syech Muhammad Sa’id Al-Khalidi Nasabandy, dilahirkan pada 20 April 1881 M, bertepatan dengan 21 Jumadil Awal 1298 H, di kawasan Padang Baru, nagari Ganggo Hilia, Bonjol.

 

Ayahnya bernama Syifat Sutan Mudo dari suku Sikumbang, sedangkan ibunya bernama Hajah Kamimah dari suku Caniago.

 

Ayahnya wafat ketika Muhammad Sa’id masih berusia sekitar tiga tahun.
Sejak usia muda, Muhammad Sa’id diarahkan untuk mendalami ilmu agama.

 

Salah seorang guru penting dalam perjalanan keilmuannya adalah Maulana Syech Ibrahim Kumpulan, seorang ulama besar yang berpengaruh dalam perkembangan Islam dan tarekat di Pasaman.

 

Setelah menempuh pendidikan agama di tanah kelahirannya, Syech Muhammad Sa’id kemudian melanjutkan perjalanan keilmuan ke Makkah Al-Mukarramah. Pengalaman belajar di pusat keilmuan Islam tersebut semakin memperkuat penguasaannya dalam bidang syariat, tasawuf dan tarekat.

 

Sekembalinya ke Bonjol, beliau kemudian menjadi salah seorang ulama dan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah yang berpengaruh di Minangkabau.

 

Masjid sebagai pusat pendidikan dan suluk. Keistimewaan Masjid Syekh Muhammad Said Bonjol terletak pada sejarahnya sebagai pusat pendidikan Islam tradisional.

 

Sebelum berkembang sebagai masjid, kawasan ini berkaitan erat dengan tradisi surau menjadi ciri khas pendidikan Islam Minangkabau.

 

Para murid datang bukan hanya dari Bonjol dan wilayah Pasaman, tetapi juga dari daerah lain. Mereka mempelajari ilmu-ilmu agama melalui sistem pengajian tradisional, membaca kitab-kitab keislaman, serta mengikuti pengajaran tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah.

 

Kajian mengenai khazanah Islam Pasaman bahkan menempatkan Masjid Syech Muhammad Sa’id Bonjol sebagai salah satu basis intelektual Islam, terutama dalam bidang Naqsyabandiyah.

Tradisi suluk dan tawajjuh menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan berkembang di lingkungan masjid. Dalam tradisi Naqsyabandiyah, tawajjuh merupakan salah satu bentuk pengamalan zikir dan pembinaan spiritual murid di bawah bimbingan seorang mursyid.

 

Dengan demikian, fungsi masjid pada masa Syech Muhammad Sa’id tidak terbatas pada pelaksanaan salat berjamaah.

 

Masjid juga menjadi tempat menuntut ilmu, membina akhlak, memperdalam tasawuf, serta membangun hubungan keilmuan antara guru dan murid.

 

Merupakan salah satu warisan paling berharga dari lingkungan pendidikan Syech Muhammad Sa’id Bonjol adalah naskah-naskah keagamaan lama.

 

Penelitian tentang khazanah manuskrip Islam Pasaman menunjukkan bahwa surau dan masjid pada masa lalu tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat penyimpanan dan transmisi ilmu melalui penyalinan naskah.

 

Koleksi yang berkaitan dengan Masjid Syech Muhammad Sa’id Bonjol mencakup naskah yang berkaitan dengan tasawuf, tauhid, fikih, tarekat dan berbagai persoalan keagamaan.

 

Memperlihatkan bahwa Bonjol pada masa lalu merupakan bagian dari jaringan intelektual Islam yang lebih luas. Ilmu diperoleh dari para ulama dari pusat-pusat keilmuan Islam, termasuk Makkah, kemudian ditransmisikan kembali kepada masyarakat melalui surau, masjid.

 

Peran dalam Tarekat Naqsyabandiyah
Syech Muhammad Sa’id dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Minangkabau. Pengaruh beliau tidak hanya terbatas pada lingkungan Bonjol saja, tetapi menjangkau wilayah yang lebih luas.

 

Dalam kehidupan organisasi keulamaan, Syech Muhammad Sa’id juga berkaitan dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), organisasi mempunyai akar kuat dalam tradisi ulama Kaum Tua Minangkabau.

 

Beliau disebut terlibat dalam pengelolaan bidang tarekat dan menjadi salah seorang tokoh utama yang dihormati dalam jaringan ulama tarekat di Sumatera Barat. Ia merupakan bagian dari jaringan ulama Minangkabau menghubungkan tradisi surau, pendidikan Islam, tarekat dan jaringan keilmuan Timur Tengah.

 

Arsitektur dan suasana masjid
Masjid ini juga menarik dari sisi fisik dan tradisi bangunannya. Sumber yang mendokumentasikan masjid menggambarkan adanya karakter arsitektur lama dengan tata ruang yang khas. Bangunan memiliki kubah utama yang diapit kubah-kubah kecil, sementara bagian dalamnya mempertahankan sejumlah unsur ruang tradisional.

 

Karakter tersebut menjadi bagian dari identitas sejarah masjid. Bangunan bukan hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat tentang kehidupan ulama, murid, pengajian.

Syech Muhammad Sa’id Bonjol wafat pada 1979. Makam beliau berada di lingkungan masjid dan menjadi salah satu bagian penting dari wisata religi di nagari Ganggo Hilia.

Keberadaan makam di lingkungan masjid semakin memperkuat kedudukan kawasan tersebut sebagai tempat ziarah sekaligus ruang untuk mengenang jasa seorang ulama yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan Islam dan tarekat di Pasaman.

Masjid sebagai warisan sejarah Pasaman
Masjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol pada akhirnya dapat dipahami sebagai tiga warisan sekaligus: warisan keagamaan, warisan pendidikan dan warisan kebudayaan.

Sebagai warisan keagamaan, masjid mempertahankan tradisi ibadah dan pengajaran Islam. Sebagai warisan pendidikan, masjid mengingatkan kita pada sistem surau yang dahulu melahirkan banyak ulama dan cendekiawan.

 

Masjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol layak ditempatkan dalam peta sejarah Islam Sumatera Barat sebagai salah satu pusat penting transmisi ilmu keislaman di Pasaman, khususnya dalam tradisi Naqsyabandiyah.

 

Sekarang Masjid Syech Muhammad Said Bonjol dalam pelaksanaan rehabilitasi, atap, kubah, plafon dan lainya karena sudah keropos dimakan usia. Harapan pengurus Masjid Syech M. Said Bonjol rehab ini terlaksana dengan baik atas bantuan ummat. (Zul)