Web Hosting
Web Hosting
Berita

Tanjak Coffee and Resto, Titik Temu Pendidikan dan Budaya Pemantik Ekonomi Pekanbaru

548
×

Tanjak Coffee and Resto, Titik Temu Pendidikan dan Budaya Pemantik Ekonomi Pekanbaru

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, PilarbangsaNews 

 

 

Kehadiran Tanjak Coffee and Resto, sebuah tempat yang tidak sekadar menawarkan sajian kopi dan kuliner, tetapi juga menjadi ruang diskusi, bertukar pikiran, dan melahirkan gagasan-gagasan segar bagi kemajuan kota.

 

Hal itu disampaikan langsung oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemko Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut, ketika melakukan soft opening Tanjak Coffee and Resto sebagai unit usaha PGRI Provinsi Riau pada Jum’at, 18 Juli 2025.

 

“Atas nama Pemerintah Kota, kita ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas hadirnya Tanjak Coffee and Resto. Di saat ekonomi melesu, masih ada teman-teman yang berani berinvestasi. Ini menjadi tambahan energi bagi penguatan daya ungkit ekonomi Pekanbaru,” ungkap Ingot.

 

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa hadirnya Tanjak Coffee and Resto sejalan dengan visi Walikota Pekanbaru untuk membangun kota yang berbudaya, maju, dan sejahtera. Kehadiran tempat seperti ini tidak hanya memperkuat sektor ekonomi, tetapi juga menjadi ruang transformasi budaya melalui interaksi dan kolaborasi antar generasi.

 

“Kami berharap, dari tempat ini lahir pemikiran-pemikiran baru, wacana-wacana segar yang bisa kita kristalisasi menjadi program nyata bagi kemajuan Pekanbaru. Penguatan budaya tidak cukup hanya dalam tataran simbolik, tetapi juga harus menyentuh nilai-nilai moral dan soft skill, seperti kejujuran, kerja keras, nilai kebersamaan, dan kegigihan,” ujar Asisten II Setdako Pekanbaru.

 

Sementara itu, Ketua PGRI Provinsi Riau, Prof. Dr. H. Adolf Bastian, M.Pd, menyampaikan bahwa langkah besar dalam mendirikan Tanjak Coffee and Resto ini merupakan terobosan pertama PGRI di sektor jasa.

 

“Selama ini PGRI dikenal dengan pelatihan pendidikan dan pengembangan karir guru. Tapi kita juga punya tanggung jawab moral untuk ikut menggerakkan ekonomi rakyat,” tegas Prof. Adolf.

 

Lebih dari sekadar tempat nongkrong, Tanjak Coffee and Resto menurutnya digagas sebagai pusat pengembangan kuliner tradisional Melayu. Di tengah maraknya budaya modern dan makanan cepat saji, restoran ini hadir membawa misi besar yaitu menghidupkan kembali cita rasa lokal yang mulai terlupakan.

 

“Kami ingin makanan dan minuman tradisional Melayu bisa lahir kembali dan dikenalkan ke generasi muda melalui cafe ini. Kami berharap cafe ini menjadi ruang perubahan budaya, tempat pertukaran informasi, ide, dan gagasan. Warung kopi tidak hanya sekadar tempat santai, tetapi juga menjadi arena intelektual,” ujarnya.

 

Visi besar PGRI Provinsi Riau tidak berhenti di sini, Prof. Adolf optimistis bahwa Tanjak Coffee and Resto akan berkembang hingga hadir di setiap kabupaten dan kota di Provinsi Riau.

 

“Sebuah mimpi yang tak sekadar tentang bisnis, melainkan tentang membangun ekosistem ekonomi yang berakar kuat pada budaya dan kearifan lokal,” tutup Ketua PGRI Provinsi Riau.

 

Dalam secangkir kopi, yang disajikan di Tanjak Coffee and Resto ini terselip harapan akan bangkitnya ekonomi rakyat dan kebudayaan Melayu yang lebih berdaya di tanah sendiri. (Mirza)