Web Hosting
Web Hosting
Artikel

Tiga Pilar Menjaga Marwah Aparatur Sipil Negara

×

Tiga Pilar Menjaga Marwah Aparatur Sipil Negara

Sebarkan artikel ini

Oleh : Arry Yuswandi (Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat)

ASN memiliki kedudukan yang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Karena itu, setiap tindakan ASN membawa konsekuensi terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

 

 

Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan hanya tentang status kepegawaian, jabatan, pangkat atau kewenangan. Di balik seragam dan jabatan seorang ASN terdapat amanah, tanggung jawab, dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, seorang ASN harus memiliki tiga pilar utama: integritas, loyalitas, dan kode etik dalam menjaga marwah ASN. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.

 

Integritas menjaga ASN agar tetap berada di jalan yang benar. Loyalitas memastikan ASN bekerja untuk kepentingan negara dan organisasi. Sementara Kode Etik menjadi pedoman agar setiap tindakan dilakukan secara profesional dan bermartabat.

 

Integritas: Tetap Benar Meski Tidak Diawasi

Integritas adalah kesesuaian antara nilai, perkataan, dan perbuatan. ASN yang berintegritas tidak hanya terlihat baik ketika diawasi oleh atasan atau pemeriksa. Ia tetap jujur ketika tidak ada yang melihat, tetap menggunakan anggaran sesuai ketentuan ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang, dan tetap memberikan pelayanan secara adil meskipun tidak ada keuntungan pribadi yang diperoleh.

Integritas terlihat dari keberanian untuk menolak penyalahgunaan jabatan, tidak memanipulasi data dan dokumen, tidak melakukan pungutan yang tidak semestinya, tidak menyalahgunakan fasilitas negara, menghindari konflik kepentingan, menggunakan anggaran secara bertanggungjawab, menjaga rahasia dan informasi yang memang harus dilindungi dan berani menyampaikan kebenaran secara profesional.

Integritas bukan tentang siapa yang melihat kita, tetapi tentang siapa diri kita ketika tidak ada yang melihat.

 

Loyalitas: Setia kepada Negara, Bukan kepada Kepentingan Pribadi

Loyalitas ASN sering kali disalahartikan sebagai kepatuhan mutlak kepada atasan. Padahal, loyalitas yang benar bukan berarti membenarkan semua tindakan pimpinan.

 

Loyalitas ASN adalah kesetiaan kepada negara, pemerintahan yang sah, organisasi, tugas kedinasan, serta kepentingan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. ASN yang loyal melaksanakan kebijakan dan keputusan kedinasan yang sah dengan penuh tanggung jawab.

Namun, loyalitas tidak boleh berubah menjadi membela kesalahan atasan, menutup-nutupi pelanggaran, mengikuti perintah yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan, mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan kelompok, menggunakan jabatan untuk kepentingan politik praktis dan menganggap kritik sebagai bentuk ketidakloyalan. Loyalitas bukan membabi buta. Loyalitas membutuhkan integritas.

 

Kode Etik: Pedoman Perilaku ASN

Kode Etik menjadi pedoman agar ASN tidak hanya bekerja dengan benar secara administratif, tetapi juga benar secara moral dan profesional.

Kode etik mengatur bagaimana ASN bersikap terhadap negara, organisasi, sesama pegawai, pimpinan, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Etika harus hadir dalam setiap aktivitas, seperti di ruang kerja, di ruang pelayanan, dalam perjalanan dinas, dalam rapat, dalam penggunaan
fasilitas negara, bahkan di media sosial.

Perilaku seorang ASN dapat memengaruhi citra institusi tempat ia bekerja. Satu tindakan tidak etis dapat merusak kepercayaan yang dibangun oleh banyak pegawai selama bertahun-tahun.

Integritas, Loyalitas, Etika, ketiga nilai tersebut harus berjalan bersama. Integritas tanpa loyalitas dapat membuat seseorang hanya berpegang pada prinsip pribadi tanpa memahami tanggung jawab organisasi. Loyalitas tanpa integritas dapat berubah menjadi kepatuhan buta dan berpotensi membenarkan kesalahan. Integritas dan loyalitas tanpa kode etik dapat kehilangan standar perilaku yang jelas dalam menjalankan tugas.

Karena itu, Integritas menentukan karakter. Loyalitas menentukan arah pengabdian. Kode Etik menentukan batas perilaku. Ketiganya membentuk ASN yang profesional dan dapat dipercaya.

Jangan Takut Menjadi ASN yang Berintegritas

Dalam lingkungan kerja, terkadang ASN menghadapi dilema. Ada tekanan untuk mempercepat sesuatu dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Ada permintaan untuk menyesuaikan data. Ada dorongan untuk membuat pertanggungjawaban sekadar terlihat lengkap. Ada pula budaya lama yang dianggap biasa meskipun sesungguhnya tidak tepat.

Pada kondisi seperti diatas, integritas menjadi ujian. ASN harus mampu mengatakan: “Saya siap melaksanakan tugas, tetapi harus tetap sesuai aturan.”

Kalimat sederhana tersebut merupakan bentuk loyalitas sekaligus integritas. Loyal kepada organisasi tidak berarti mengorbankan aturan. Loyal kepada pimpinan tidak berarti mengikuti kesalahan. Loyal kepada negara justru berarti menjaga agar kewenangan negara digunakan secara benar.

Pemimpin Harus Menjadi Teladan

Integritas dan Etika tidak akan tumbuh hanya melalui slogan. Pimpinan harus memberikan contoh. Tidak mungkin membangun ASN berintegritas jika pimpinan sendiri memberikan toleransi terhadap pelanggaran.

Budaya organisasi dibentuk oleh apa yang dihargai, ditoleransi, dan ditindak. Jika pegawai berprestasi dihargai, integritas ditegakkan, dan pelanggaran ditindak secara adil, maka organisasi akan berkembang menjadi organisasi yang sehat.

Sebaliknya, jika pelanggaran dibiarkan karena pelakunya memiliki jabatan atau kedekatan tertentu, maka pesan yang muncul sangat berbahaya: sanksi pelanggaran hanya berlaku bagi yang tidak memiliki kekuasaan.

 

ASN Bekerja untuk Kepentingan Publik

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ASN bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan atau berapa banyak dokumen yang diselesaikan.

 

Ukuran yang lebih penting adalah: apakah masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih baik? Apakah anggaran digunakan secara efektif? Apakah keputusan dibuat secara objektif Apakah data disajikan dengan benar? Apakah masyarakat mendapatkan haknya? Apakah kewenangan digunakan untuk kepentingan publik? Disitulah integritas, loyalitas, dan kode etik menemukan maknanya.

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis