Web Hosting
Web Hosting
Berita

Terungkap, Tantangan Terbesar Pariwisata Sumbar Pascabencana Bukan Bencana Alam

37
×

Terungkap, Tantangan Terbesar Pariwisata Sumbar Pascabencana Bukan Bencana Alam

Sebarkan artikel ini

Padang, PilarbangsaNews

Persepsi negatif pascabencana masih menjadi tantangan terbesar bagi pariwisata Sumatera Barat. Kondisi ini terungkap dalam Talkshow Potensi Pariwisata Sumbar Pascabencana yang berlangsung pada Batigo Fest di Kupi Batigo, Padang, Minggu (31/5/2026).

 

 

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, dr. Lila Yanwar, menegaskan kerusakan fisik bukan satu-satunya dampak bencana. Menurutnya, persepsi publik sering bertahan lebih lama dibanding kondisi sebenarnya di lapangan.

 

“Bencananya sudah selesai, tetapi persepsi masyarakat masih tertinggal. Banyak orang menganggap daerah terdampak masih belum aman dikunjungi,” kata Lila.

 

Ia menjelaskan banyak destinasi wisata Sumbar tetap beroperasi normal. Selain itu, sejumlah jalur wisata masih menyajikan panorama alam yang menarik.

 

Wisatawan masih dapat menikmati keindahan Lembah Anai. Mereka juga bisa menikmati panorama Sitinjau Lauik hingga kawasan Solok yang terkenal dengan bentang alamnya.

 

Narasi Positif Jadi Kunci

Lila menilai narasi positif harus menjadi strategi utama pemulihan pariwisata. Menurutnya, promosi destinasi tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur.

 

“Kita harus membangun storytelling yang positif. Sumatera Barat memiliki alam luar biasa, tetapi belum selalu didukung narasi yang tepat,” ujarnya.

 

Ia juga mendorong penerapan konsep build back better. Konsep tersebut memungkinkan kawasan terdampak dibangun kembali dengan kualitas yang lebih baik.

 

Selain itu, pemerintah terus menjalankan program rehabilitasi dan rekonstruksi di sejumlah wilayah terdampak.

 

Zuhrizul Ingatkan Bahaya Bencana Peradaban

Ketua TP2DEWI Sumbar, M. Zuhrizul, mengingatkan ancaman lain yang dinilainya lebih berbahaya dibanding bencana alam.

 

Ia menyebut ancaman tersebut sebagai “bencana peradaban”. “Bencana peradaban terjadi ketika adab masyarakat mulai memudar. Itu bencana sesungguhnya bagi Sumatera Barat,” katanya.

 

Zuhrizul menyoroti masih adanya perilaku membuang sampah sembarangan di kawasan wisata. Menurutnya, tindakan tersebut merusak citra pariwisata dan bertentangan dengan nilai budaya Minangkabau.

 

Ia mengajak seluruh pelaku wisata menjaga lingkungan, pelayanan, dan etika dalam mengelola destinasi.

 

Literasi Kebencanaan Harus Diperkuat

Direktur Eksekutif BPPD Sumbar, Yulviadi Adek, menilai masyarakat perlu memahami realitas hidup berdampingan dengan bencana.

 

Menurutnya, kondisi geografis Sumbar tidak boleh menghambat aktivitas ekonomi maupun pariwisata.

 

“Kita harus beradaptasi dan hidup berdampingan dengan bencana. Yang perlu diperkuat adalah literasi kebencanaan,” ujarnya.

 

Ia menilai edukasi kebencanaan berbasis adat dan kearifan lokal perlu diperluas kepada generasi muda.

 

Pariwisata Tangguh dan Berkelanjutan

Pemerhati pariwisata sekaligus ahli geologi, Ade Edward, menilai persepsi negatif menjadi hambatan utama kebangkitan wisata Sumbar.

 

“Bencana alam bisa selesai dalam hitungan bulan. Namun persepsi negatif bisa bertahan jauh lebih lama,” katanya.

 

Ade menegaskan pembangunan pariwisata harus memperhatikan mitigasi bencana, tata ruang, dan kelestarian lingkungan.

 

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun konsep resilient tourism atau pariwisata tangguh. Dengan langkah tersebut, Sumbar dapat menjadi destinasi wisata aman, berkelanjutan, dan siap menghadapi berbagai tantangan.

 

Talkshow ini menghasilkan satu kesimpulan penting. Kebangkitan pariwisata Sumbar tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada narasi positif, literasi kebencanaan, dan penguatan karakter masyarakat. (Gilang)