Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia: Bakhtiar Sibarani, Bukan Sekadar Mantan Bupati
Tapanuli Tengah, PilarbangsaNews
Jika Anda mencari definisi pemuda yang naik dari bawah, bukan dari menara gading, namanya adalah Bakhtiar Ahmad Sibarani.
Ia lahir di Pasar Batu Gerigis, Barus, Tapanuli Tengah, pada 2 November 1984. Anak pesisir. Bukan anak pejabat, bukan anak sultan. Ayahnya bernama Ahmad Yunus Sibarani dan ibunya Rasyidah Rambe. Ia memiliki delapan saudara, semuanya orang biasa. Namun dari titik itulah ia membuktikan satu hal: garis start boleh di belakang, tetapi garis finis bisa di depan.
Bakhtiar adalah Bupati Tapanuli Tengah ke-20 yang menjabat pada 22 Mei 2017 hingga 22 Mei 2022. Sebelumnya, ia merupakan Ketua DPRD Tapanuli Tengah periode 2014–2017 dan terpilih menjadi anggota DPRD pada usia 25 tahun. Termuda dan paling ngegas.
Perjalanan politiknya tidak mulus. Ia memulai sebagai Sekretaris DPC Partai Demokrat, kemudian pindah ke Partai Hanura dan berhasil membawa partai yang sebelumnya tidak memiliki kursi menjadi meraih 8 kursi DPRD hingga mendapatkan jatah Ketua DPRD. Kini ia berlabuh di Partai NasDem sebagai Ketua Teritorial Pemenangan Pemilu Sumatera 1 (Aceh dan Sumatera Utara). Itu bukan kutu loncat, itu strategi bertahan hidup dan bukti bahwa ia dicari, bukan mencari.
Pertama, Patriotik: Cinta Tanah Kelahiran yang Dibuktikan Bukan dengan Kata
Patriotik versi Bakhtiar bukan sekadar upacara dan jas rapi. Patriotik adalah membuat kampung halaman menjadi ikon.
Saat menjadi Bupati, ia tidak membangun pencitraan, ia membangun Alun-Alun Kota Pandan dan Jogging Track GOR Pandan. Dua proyek itu kini menjadi ikon baru Pandan, ibu kota Tapanuli Tengah. Tempat nongkrong anak muda, tempat hidupnya UMKM, tempat warga bangga berkata, “Ini kota kami”.
Ia juga merupakan Ketua Gadang DPP Himpunan Kerukunan Keluarga Barus (HIKKBAR). Barus bukan kota sembarangan, ia adalah Titik Nol Islam Nusantara. Ia menjaga akar sejarah sambil membawa daerahnya maju. Itu adalah patriotisme yang konkret.
Kedua, Gigih: Dari Pembongkar Ikan hingga Bupati
Ini adalah bagian yang harus didengar anak muda. Setelah tidak jadi masuk jurusan Ekonomi UMSU, ia kembali ke Sibolga menjadi penjual ikan. Ia benar-benar berjual-beli ikan, menjadi pembongkar ikan, hingga menjadi pemasok ikan laut ke Pekanbaru.
Pada tahun 2005, ia membuka pangkalan minyak tanah di Barus, kemudian menjadi pemasok pasir dan batu (sirtu) ke kebun kelapa sawit PT Nauli Sawit di Manduamas selama bertahun-tahun. Peluang usahanya semakin berkembang karena calon mertuanya memiliki pabrik es di Simeulue dan harga ikan di sana sangat murah. Ia melihat peluang itu dan memasok ikan dari Simeulue ke Sibolga hingga tahun 2015.
Tidak ada yang instan. Sembilan tahun merintis usaha sebelum terjun ke politik secara serius. Karena itu, ketika menjadi pejabat, ia mengerti rasanya dagang rugi, mengerti rasanya ditolak, dan mengerti rasanya harga ikan anjlok.
Kegigihannya juga terlihat di bidang pendidikan. Meskipun sudah menjadi Bupati dan sibuk, ia tetap melanjutkan kuliah: meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.) di UMSU pada tahun 2022 dan Magister Hukum (M.H.) di UMSU pada tahun 2024. Banyak pejabat malas kuliah setelah berkuasa, ia justru sebaliknya.
Ketiga, Berempati: Politisi yang Ingat Nama Warga
Bakhtiar dijuluki sebagai bupati yang dekat dengan rakyat. Pada masa jabatannya, ia dikenal dengan gerakan sosial dan rekam jejak kepedulian yang membuat warga memintanya kembali memimpin Tapanuli Tengah.
Empati bukan sekadar bagi-bagi sembako saat kampanye. Empati adalah kebijakan yang membuat warga merasa diurus. Itulah yang ia tanamkan di Tapanuli Tengah: pembangunan yang dapat dinikmati semua umur, dari anak muda yang nongkrong di alun-alun hingga bapak-bapak yang joging di sore hari.
Keluarganya pun menjadi cerminan nilai itu. Ia menikah dengan Citra Zulianda Sari sejak 13 Juli 2010 dan dikaruniai tiga orang anak. Hidupnya tidak neko-neko, tetap berada di lingkaran keluarga Barus-Sibolga.
Pemuda untuk Indonesia: Mengapa Kita Membutuhkan Tipe seperti BS?
Indonesia sedang krisis figur muda yang 3-in-1: Patriotik (tidak menjual daerah demi pusat), Gigih (pernah susah, bukan karbitan), dan Berempati (tidak lupa rakyat setelah berada di atas).
BS adalah panggilan akrabnya, tetapi juga bisa dimaknai sebagai Berani dan Solutif. Pada usia 32 tahun, ia sudah menjadi Bupati. Pada usia tersebut, banyak anak muda masih bingung akan menjadi apa, ia sudah memimpin satu kabupaten.
Ia juga pernah menjadi Juru Bicara Timnas AMIN dan Ketua DPD Partai NasDem Tapanuli Tengah. Kini bidikannya lebih besar: dari Tapanuli Tengah untuk Sumatera Utara, dari Sumatera Utara untuk Indonesia.
Kita tidak membutuhkan pemuda yang hanya bisa membuat utas di media sosial tentang Indonesia Emas 2045. Kita membutuhkan pemuda yang pernah bau amis ikan, pernah ditolak partai, pernah rugi berdagang, tetapi tetap kembali dan membangun alun-alun untuk warganya.
Itulah Bakhtiar Ahmad Sibarani. Patriotik, karena ia membangun tanah kelahirannya. Gigih, karena ia ditempa dari bawah. Berempati, karena ia tetap menjadi manusia, bukan sekadar pejabat. (Gilang)



















