Web Hosting
Web Hosting
Berita

Khairul : Kebencanaan Holistik PR Besar Kabupaten Solok Ditengah Ancaman Bencana

×

Khairul : Kebencanaan Holistik PR Besar Kabupaten Solok Ditengah Ancaman Bencana

Sebarkan artikel ini

Kabupaten Solok, PilarbangsaNews

Pasca tanggap darurat bencana banjir bandang yang melanda di Kabupaten Solok pertengahan September lalu, wajah lelah masih terlihat di wajah Khairul, Kalaksa BPBD Kabupaten Solok. Masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan kedepan.

 

 

Baginya, sudah saatnya kebencanaan holistik menjadi bagian penting yang tak boleh diabaikan. Berbekal pengalaman dalam menagani beberapa bencana sebelumnya sangat perlu penguatan dan pengkajian mendalam dalam memahami kebencanaan tersebut.

 

Khairul menjelaskan, Kabupaten Solok tidak bisa lagi memandang bencana sebagai peristiwa sesaat. Dengan daerah yang memiliki kontur perbukitan, Danau Singkarak dan Danau Diateh serta jalur sesar aktif Sumatera yang melintas, pendekatan kebencanaan holistik menjadi keharusan, bukan lagi sebuah pilihan.

 

Menurutnya, selama ini, penanganan bencana di daerah masih terjebak pada paradigma tanggap darurat semata. Datang, beri bantuan dan pulang. Semestinya sangat diperlukan menerapkan konsep holistik, bencana adalah siklus utuh yang harus dikelola dari hulu ke hilir.

 

“Bila mengamati data data BNPB menunjukkan 70 persen keberhasilan penanganan bencana itu sangat ditentukan pada fase pra-bencana, yakni mitigasi, pencegahan dan penanggulangan, rehabilitasi dan lainnya,” jelas Kalaksa ini.

 

Ia menambahkan, tanpa pemetaan risiko yang akurat, edukasi nagari siaga bencana, dan penegakan aturan tata ruang di kawasan rawan longsor, hampir semua nagari selalu dalam ancaman bencana, banjir longsor, gempa dan letupan gunung merapi.

 

“Maka setiap musim hujan di daerah daerah yang tinggi curah hujannya akan selalu menjadi ancaman bencana serupa, bahkan bisa berulang, ini sangat perlu peran bersama dalam mengantisipasi dini ancaman bencana,” terang Khairul di kantornya Koto Baru, Selasa (27/10/2026).

 

Lebih jauh dipaparkan Khairul, bahwa kebencanaan holistik menuntut sinergi pentahelix. Pemerintah Daerah itu sebagai regulator, akademisi sebagai penyedia kajian ilmiah, dunia usaha sebagai pendukung logistik, media seperti Serikat Media Siber Indinesia (SMSI) dan PilarbangsaNews sebagai pilar edukasi dan diseminasi informasi kebencanaan yang benar.

 

Selain itu peran masyarakat sebagai subjek utama, di Solok, peran ninik mamak dan kearifan lokal dalam membaca tanda alam harus diintegrasikan dengan teknologi modern seperti InaRISK dan Early Warning System.

 

Lebih dari itu, holistik berarti inklusif dan berkelanjutan. Pasca bencana, tugas kita bukan hanya membangun kembali fisik, tetapi memulihkan ekonomi, trauma, dan sistem sosial agar masyarakat lebih tangguh. Jangan membangun kembali permukiman di zona merah yang sama.

 

Inilah juga ternasuk esensi dari slogan “Pers Hebat, Jurnalis Bermartabat”, intinya media itu hadir tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pemulihan jangka panjang.

 

Karena di Kabupaten Solok, siaga bencana dan kebencanaan holistik itu adalah investasi untuk generasi masa datang dan mengurangi resiko bencana atas kerugian materi, harta benda, sampai menekan resiko ancaman kehilangan nyawa masyarakat.

 

Dari amatan wartawan PilarbangsaNews sangat perlu kebijakan pemerintah daerah, DPRD Kabupaten Solok, Forkopimda, pihak swasta, perusahaan sampai ke nagari-nagari melahirkan kebijakan tentang kebencanaan holistik. Hampir semua wilayah di Kabupaten Solok sangat rawan terhadap ancaman bencana. (Syam)