Web Hosting
Web Hosting
Berita

TANGIS HARU DI JAMARAT DAN JUICE JERUK YAMAN

29
×

TANGIS HARU DI JAMARAT DAN JUICE JERUK YAMAN

Sebarkan artikel ini

(Kenangan Berhaji bersama Pak Adi Bermasa)

Oleh Wardas Tanjung *)

 

 

Saya dapat kabar duka berpulangnya ke Rahmatullah Bapak Adi Bermasa (Drs. H. Aditiawarman, selanjutnya Pak AB) dari grup WA Dunsanak Veteraner 17, setelah tengah malam. Karena di hari yang sama saya sibuk mengurus penyelenggaraan jenazah Bapak Jasman, S.Sos, MM (Kabag Kesra Setda Kota Padang) yang meninggal Jumat sore sebelumnya. Pak Jasman adalah dunsanak dan kerabat dekat saya.

 

Grup Dunsanak Veteran 17 merupakan perkumpulan para alumni wartawan dan karyawan Surat Kabar Harian Singgalang, yang berkantor di Jalan Veteran 17 Padang. Pak AB meninggal hari Sabtu tanggal 13 Juni 2026 sekitar pukul 18.00 WIB di rumah kediaman alm Jalan Aster Flamboyan dan dikebumikan di kampung halamannya Ampang Gadang 50 Kota. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Semoga Pak AB meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diampuni segala dosanya, diterima segala amal kebajikannya dan diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin…

 

Melawan Malas

Tahun 1996 saya menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah, atas prestasi sebagai juara satu MTQ Antar Wartawan se Asia Tenggara. Selain naik haji saya juga mendapat hadiah uang tunai sebesar USD.5000 (jika dirupiahkan sekarang setara dengan Rp85.000.000).

 

Kebetulan di musim haji tahun itu ada beberapa wartawan Singgalang yang naik haji. Selain saya adalah Pak AB, Shofwan Karim, Darlis Syofyan dan Marwan Zein. Kami berempat tergabung dalam kloter 8 Padang atau MES 31 Medan, Sedangkan Pak Marwan berangkat dari embarkasi Jakarta.

 

Ketua Kloter kami adalah Drs. Maziar dari Kanwil Kemenag (dulu Depag) Sumbar. Dalam satu kloter terdapat 9 Rombongan, setiap Rombongan ada 7 Regu. Kami yang berempat tergabung dalam Rombongan 9 dan Regu 2. Saya diamanahi sebagai Ketua Rombongan 9, sedangkan Ketua Regu 2-nya adalah Bapak Syafruddin Jamal (waktu itu Dekan Fakultas Dakwah IAIN IB Padang). Jadi, sebagai jamaah saya adalah anggota Regu 2 yang dipimpin Pak Syafruddin Jamal, tapi sebagai Ketua Rombongan 9 pak Syafaruddin Jamal adalah anggota saya.

 

Di Mekah kami menginap di Maktab 44 yang beralamat di Almishfalah 2. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Masjidil Haram. Kami berempat dan ayahanda Pak Shofwan Karim serta Pak Syafruddin Djamal tidur sekamar di lantai 6. Kasur tempat tidur saya bersebelahan langsung dengan Pak AB.

 

Hari ke-2 sampai di Mekah saya terkena flu berat, sehingga di hari ke-3 saya sholat subuh di maktab saja, tidak ke Masjidil Haram. Hari ke-4 saya masih demam dan berencana sholat subuh masih di maktab.

 

“Das, jago lai, wak sholat subuh ka Haram,” kata Pak AB sambil menepuk bahu saya.

 

“Ambo di maktab sajo pak, masih barek kapalo ko haah,” jawab saya.

 

“Angku paturuikkan maleh tu beko maleh taruih ka masjid. Iko di Makah awak mah. Lawan maleh tu,” kata Pak AB meyakinkan.

 

Mendengar nasehat Pak AB saya pun bangkit, langsung mandi dan berangkat bersama ke Haram untuk sholat subuh. Nyatanya Alhamdulillah saya pun sehat dan tak pernah absen lagi sholat subuh ke Masjidil Haram.

 

Nasehat dan pesan Pak AB itu terngiang terus di telinga saya sampai sekarang. Malah kalau ada jamaah yang akan berangkat haji, pesan Pak AB itu saya titipkan. Malas harus dilawan.

 

Menangis di Jamarat

Kenangan paling mengesankan dari Pak AB selama kami menunaikan ibadah haji adalah saat melontar jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijjah. Kami berangkat dari tenda sehabis subuh. Artinya, begitu sampai di Mina dari Arafah-Muzdalifah, kami langsung ke jamarat. Sambil mengumandangkan takbir kami melewati terowongan Almuaisim bersama jamaah lainnya.

 

Melontar jumrah Aqabah ini merupakan perjuangan yang amat berat bagi setiap jamaah haji. Anda bisa bayangkan jutaan manusia menuju titik yang sama pada waktu bersamaan. Sejarah mencatat bahwa korban terbanyak jemaah haji adalah di sini. Apalagi sebelumnya longmarch dari Armuzna cukup melelahkan dan hampir tanpa istirahat.

 

Alhamdulillah kami selamat karena diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam melaksanakan prosesi pelemparan jumrah Aqabah tersebut hingga kami tahallul (mencukur rambut) awal/tahalul ashghar secara bergantian.

 

Di sinilah suasana haru biru menyelimuti kami berdua. Selesai tahalul ashghar itu tiba-tiba tangis saya meledak. Pak AB sepertinya kaget.

 

“Manga angku manangih? Ibo bana hati tu maninggaan syetan?” tanya Pak AB sambil melirik saya yang berjalan di samping kanannya.

 

“Indak itu do Pak. Dengan lah tahalul ashghar tadi berarti awak kini lah haji. Ndak tabayang do ambo bisa haji,” jawab saya sambil mengusap air mata yang mulai membasahi pipi.

 

Mendengar jawaban saya, spontan tangis Pak AB pun pecah. Kami berdua menangis seperti orang meratap sepanjang perjalanan pulang di terowongan Almuaisim. Yaa Allah terimalah haji kami sebagai haji mabrur. Lapangkankah kubur Pak AB dan pertemukan kami kembali di syorga Mu yaa Rabb.

 

Juice Jeruk Yaman

Selama menunaikan ibadah haji, saya dan Pak AB selalu berdua. Rutinitas kami adalah subuh berangkat ke Masjidil Haram, pulang ke penginapan sekitar pukul tujuh. Saat pulang itu kami membeli sarapan dari orang Madura yang banyak berjualan di sepanjang jalan.

 

Sekitar pukul 11 kami berangkat lagi ke Haram, nanti pulang setelah Isya. Dalam perjalanan pulang ke maktab kami membeli makan malam.

 

Apa saja yang kami lakukan dari zuhur ke isya? Yang jelas sholat zuhur, ashar, maghrib dan isya di Masjidil Haram. Di luar waktu waktu sholat kami baca Quran dan zikir. Kadang sampai tertidur di masjid hingga dibagunkan oleh Askar sesaat sebelum azan berkumandang.

 

Untuk makan siang biasanya agak tiga kali seminggu kami malapeh salero di restoran Padang (Padang Indonesian Restaurant) yang terletak di lantai satu Hotel Hilton, persis di seberang jalan depan Masjidil Haram. Kadang makan siang kami dengan sepotong roti yang berisi daging kambing plus semangkok ice crem dan sebotol moya (air mineral ukuran menengah).

 

Menjelang masuk waktu ashar atau setelahnya kami juga rutin melepas dahaga dengan minum juice jeruk yang dijual pedagang kaki lima di emperan emperan toko. Salah seorang pedagang berkebangsaan Yaman telah menjadi langganan kami. Pedagang yang tampak mulai menua itu familiar sekali. Setiap kami datang dia tersenyum ramah. Entah mengerti atau tidak dengan bahasa isyarat kami, terkadang kakek itu gelak terpingkal pingkal. Apalagi Pak AB selalu memancing garah yang membuat sang kakek enjoy sekali.

 

“Bisa juo gaek ko bagarah yo Wardas yo, walaupun liau indak mangarti bahaso awak,” kata Pak AB sambil mencubit saya.

 

Pernah suatu kali, gaek tersebut menawarkan semacam ramuan berkhasiat untuk diminum orang dewasa. Sepertinya ramuan itu telah dipersiapkannya dari rumah sebelum berangkat ke tempat berjualan karena dia tahu nanti sore kami akan datang minum juice jeruk ke sana.

 

Sang kakek menjelaskan bahan ramuan, khasiat dan cara minumnya sambil memperagakan dengan gerak tangannya yang lincah. Tak henti, dia ketawa ketawa dan menawarkan agar kami membelinya. Meski kami tidak membelinya, sang kakek tidak kecewa. Esoknya dan setiap kami datang dia selalu riang melayani.

 

Itulah sekelumit kisah dan kenangan saya berhaji bersama Pak AB. Kini sosok humoris dan penuh wibawa itu telah tiada. Yang tinggal hanya kenangan. Semoga Pak AB tenang di alam sana dan kelak kita dipertemukan bersama orang orang sholeh oleh Allah di syorga Nya. Aamiin…

 

Al Faatihah untuk Pak AB..

 

*) Penulis adalah Mantan Wartawan Harian Singgalang

**) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis