Web Hosting
Web Hosting
Opini

Fakta Porprov XVI: Padang Borong Medali Emas, Sekolah Kehabisan Lapangan Olahraga

blank
×

Fakta Porprov XVI: Padang Borong Medali Emas, Sekolah Kehabisan Lapangan Olahraga

Sebarkan artikel ini
blank

Oleh: Agusmardi – Wartawan/Pemerhati Pendidikan

Kita patut berbangga. Kota Padang kembali mengukuhkan dominasi sebagai Juara Umum Porprov XVI Sumatera Barat 2026. Bukan kaleng-kaleng, 267 emas, 189 perak, 175 perunggu, total 631 medali. Sejarah mencatat, ini gelar ke-16 kalinya secara berturut-turut.

 

 

Pemko bahkan menyiapkan bonus Rp23 miliar untuk atlet dan pelatih. Wajar. Prestasi harus diapresiasi.

 

Tapi dibalik gegap gempita podium itu, ada pertanyaan jujur yang harus kita tanyakan di ruang kelas SD dan SMP kita: seberapa bugar anak-anak kita yang tidak jadi atlet?

 

Jawabannya pahit. Di sekolah-sekolah kita, kita sedang menciptakan generasi juara yang sedikit, di tengah lautan pelajar yang kebugarannya rendah.

 

Kota Padang, yang saat ini dipimpin duet Wako Fadly Amran dan Wawako Maigus Nasir seperti piramida terbalik. Puncaknya sangat runcing dan kuat: pembinaan atlet elit di Pengcab/klub, dan sejenisnya berjalan. Mereka yang menyumbang emas. Tapi alas piramida itu keropos. Alasnya adalah Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SD dan SMP.

 

Faktanya, PJOK cuma formalitas. Di banyak SD Negeri di Padang, PJOK hanya 2 jam pelajaran seminggu, sering digabung, sering dipinjam guru lain untuk kejar materi calistung.

Lapangan olahraga? Banyak SD di Padang Timur dan Kuranji yang halamannya cuma bersisa untuk parkiran. Anak untuk olahraga pemanasan saja sudah mentok pagar.

 

Berdasarkan hasil survei kebugaran jasmani Indonesia dengan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) nasional konsisten menunjukkan >70% pelajar dalam kategori kurang dan kurang sekali.

 

Di Padang, fenomena obesitas anak SD, anak cepat lelah naik tangga ke lantai 2 sekolah, tidak mampu lari 1 putaran lapangan, bukan cerita baru.

 

Kini sekolah berorientasi kognitif semata. Kepala sekolah dan orang tua masih mengukur keberhasilan SD-SMP dari nilai ANBK, rangking, dan lolos SMP/SMA favorit. Olahraga dianggap mengganggu, bukan bagian dari kecerdasan. Padahal riset jelas: kebugaran kardiovaskular berkorelasi langsung dengan konsentrasi, memori, dan kemampuan akademik.

 

Kota Padang juara umum Porprov karena berhasil merekrut dan membina 500 anak berbakat. Tapi kita gagal membugarkan 130.000 pelajar SD-SMP di Kota Padang. Inilah fenomena pendidikan dasar.

 

Jika kebugaran anak sekolah rendah, apa yang salah?

Pendidikan dasar dan menengah seharusnya tidak melahirkan atlet. Tugasnya melahirkan manusia bugar, sehat, dan memiliki literasi gerak.

 

Atlet itu bonus dari sistem pendidikan jasmani yang sehat, bukan sebaliknya. Di Kota Padang, kita membalik logikanya.

 

Kurikulum Merdeka memberi ruang untuk kurikuler dan ekstrakurikuler berbasis projek. Tapi berapa SD di Kota Padang yang projeknya adalah “Gerakan 1 Jam Aktif Sehari” dan bukan sekadar membuat poster?

 

Tiga Agenda Mendesak untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang. Kalau kita mau juara umum yang bermakna, Disdikbud dan Dispora tidak boleh jalan sendiri-sendiri.

 

Pertama, Wajibkan Sekolah Ramah Gerak. Kembalikan marwah PJOK. Bukan 2 jam teori di kelas. Wajibkan 30 menit aktivitas fisik moderat setiap hari sebelum PBM dimulai – seperti program “Senam Anak Indonesia Hebat” tapi jangan seremonial.

 

Gerakan harus terukur. Lakukan Tes Kebugaran Pelajar Nusantara setiap semester, hasilnya masuk rapor kesehatan, bukan untuk menghukum, tapi untuk pemetaan.

 

Kedua, Revitalisasi Ekstrakurikuler Olahraga Tradisional. Jangan hanya futsal yang butuh sewa lapangan. Hidupkan kembali gobak sodor, galasin, egrang, silat. Murah, butuh ruang kecil, dan membangun VO2 max anak jauh lebih efektif daripada upacara yang berdiri diam 1 jam.

 

Kolaborasikan pelatih-pelatih Porprov yang sudah berprestasi itu untuk mengabdi 2 jam seminggu di SD-SMP sekitarnya sebagai bagian dari tanggung jawab bonus yang mereka terima.

 

Ketiga, Ubah Indikator Keberhasilan Sekolah. Selama penilaian sekolah hanya AKM literasi dan numerasi, kepala sekolah tidak akan peduli lapangan. Dinas harus memasukkan Indeks Kebugaran Sekolah (IKS) sebagai salah satu komponen penilaian Sekolah Sehat dan Sekolah Adiwiyata. Sekolah dengan IKS rendah tidak boleh dapat predikat unggul.

 

Padang tidak butuh 267 emas lagi di Porprov XVII 2028. Padang butuh 267 SD yang anak-anaknya mampu lari 1,6 km tanpa berhenti.

 

Karena juara umum yang sejati bukan diukur dari berapa medali dan predikat juara umum Porprov Sumbar saja, tapi dari berapa anak SD kita yang pulang sekolah masih kuat berlari dan bermain di lapangan kampungnya.

 

Jika tidak, kita sedang merayakan kemenangan semu: juara di stadion, tapi kalah di halaman sekolah kita sendiri.

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis

 

blank

blank

blank

blank

blank

 

blank

blank

 

blank

 

blank

 

blank

 

blank

 

blank

blank