Web Hosting
Web Hosting
Berita

Dr. Afdholi Ali Rahman : Merusak Alam Lewat Tambang Liar, Tunggulah Persekot Azab Allah

48
×

Dr. Afdholi Ali Rahman : Merusak Alam Lewat Tambang Liar, Tunggulah Persekot Azab Allah

Sebarkan artikel ini

Jakarta, PilarbangsaNews

Persoalan menjaga keseimbangan bumi ternyata sudah tertulis di dalam Alquran sejak 15 abad silam. Bumi memang diciptakan Sang Khalik untuk kesejahteraan manusia, tetapi pemanfaatannya tidak boleh brutal dan wajib memperhatikan keseimbangan alam.

 

 

“Ada dua bentuk pengrusakan bumi oleh manusia. Pertama, merusak secara fisik, yaitu mengambil hasil bumi tanpa memikirkan keseimbangan alam,” ujar Dr. Afdholi Ali Rahman, SQ, MA, pada Pengajian Malam Idul Adha di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

 

Menurut Ustad Afdholi, bumi diciptakan untuk menyejahterakan manusia, namun ekosistemnya wajib dijaga. “Pemerintah keras merawat alam, padahal 15 abad lalu Alquran sudah menggarisbawahi, menjaga keseimbangan alam. Ketika terjadi bencana, jangan alam yang disalahkan. Itu justru tanda manusia tak mampu menjaga alam,” katanya.

 

Terjadinya bencana alam, lanjutnya, jangan langsung disimpulkan sebagai kehendak Allah SWT semata. Bencana yang membunuh banyak orang kerap merupakan akibat ulah tangan manusia yang membabi buta merusak bumi, melalui pengerukan tanpa mau merehabilitasinya setelah emas dan batu bara dikuras serta hutan dibabat habis.

 

Bentuk kedua, kata Ustad Afdholi, adalah kerusakan non-fisik, yakni perilaku manusia yang mengotori bumi dengan dosa-dosa. Ketika dosa itu sudah melampaui batas, alam berbalik menjadi cambuk yang menyadarkan manusia. Ia merujuk pada Alquran Surat Al-Baqarah ayat 11, yang menyinggung orang-orang yang membuat kerusakan di bumi namun mengaku sebagai pihak yang justru memperbaiki.

 

Penegasan serupa, menurutnya, terdapat dalam Surat Luqman ayat 20, yang mengingatkan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan bumi untuk manusia sebagai nikmat, sehingga menyia-nyiakannya adalah bentuk kufur nikmat.

 

Ustad Afdholi juga menekankan, konsep halal dalam Alquran tidak berdiri sendiri, melainkan selalu dibarengi tayib atau baik. Artinya, memanfaatkan sumber daya yang halal tetap harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merusak. Musibah yang diturunkan Allah, kata Ustad Afdholi, tidak hanya menimpa pelaku pengrusakan alam. Warga yang tak berdosa pun ikut menjadi korban amukan alam yang dirusak manusia. Ia mencontohkan maraknya penambangan liar di Sumatra Barat yang viral di berbagai media, namun peringatan terhadapnya seakan tak mempan, barangkali karena kalah kuasa. Hal ini, katanya, sejalan dengan Surat Ar-Rum ayat 41: telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar.

 

Musibah, menurut Ustad Afdholi, pada hakikatnya bermakna ujian, tetapi maknanya berbeda tergantung kepada siapa ia jatuh. “Kepada orang saleh, musibah bermakna ujian. Kepada manusia yang setengah baik dan setengah buruk, musibah adalah peringatan. Tapi kalau musibah menjadi persekot azab, itu ditujukan kepada manusia yang tak mengindahkan peringatan, baik dari pemerintah maupun ahli kitab,” paparnya.

 

Ia menambahkan, musibah adalah perkara dunia, sedangkan azab adalah perkara akhirat. Mengenai mengapa orang saleh justru kerap ditimpa musibah, Ustad Afdholi menjelaskan bahwa golongan ini tidak dimanjakan Allah, melainkan terus didera ujian. Para nabi pun bertubi-tubi diuji, meski ketika mereka berdoa, pintu langit senantiasa terbuka untuk mengabulkannya.

 

“Seperti kata orang bijak, pelaut hebat lahir dari gelombang dan badai dahsyat. Demikian pula manusia yang berbrevet saleh,” ujarnya.

 

Ia juga mengutip Surat Al-Mulk ayat 2, bahwa Allah menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalnya. “Hidup adalah ujian. Senang dan susah sama-sama ujian. Manusia mengaku baik, tetapi Allah belum mengakuinya sebelum ia lulus dari ujian,” katanya.

 

Ustad Afdholi menyebut tiga amalan untuk menghadapi dan membendung musibah: memakmurkan masjid, mencintai sesama, dan rajin beristigfar. Amalan ini, katanya, bersumber dari hadis qudsi, yaitu firman Allah yang tidak termaktub dalam Alquran namun disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad SAW, dan menempati kedudukan tinggi di antara hadis. Saat mendapat nikmat maupun ujian, hendaknya seorang hamba mengucapkan Innalillahi sebagai sandaran vertikal kepada Allah, sebab semua berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.

 

Pada bagian lain, Ustad Afdholi mengingatkan bahwa Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW telah mengatur seluruh kompleksitas kehidupan hingga hari akhir, bahkan menggambarkan apa yang terjadi sesudahnya. Merusak alam, bahkan menyakiti hewan, menurutnya bisa menghalangi seorang muslim masuk surga, apalagi menyakiti sesama manusia. Surga adalah nikmat, namun ada yang lebih agung dari surga, yaitu berjumpa dengan Sang Khalik.

 

Ia mengingatkan, muslim berusia 40 tahun ke atas seharusnya tidak sekadar membaca dan menghafal Alquran, tetapi memahami maknanya dan mengaktualkannya dalam kehidupan.

 

“Banyak dari kita yang hanya membaca dan menghafal, tanpa mengaktualkannya. Jangan jadikan ibadah sekadar transaksi pahala. Sujudku kepada Allah tak mengharap pahala dan surga; jika itu yang kuharap, benamkanlah aku di neraka-Mu kelak, ya Rabb,” ujar Adrian, salah seorang dari belasan jemaah pengajian malam itu.

(Gilang)