Web Hosting
Web Hosting
Berita

Nasib Petani Gambir Limapuluh Kota Jadi Perhatian, Dony Oskaria Perintahkan PTPN Turun Tangan

×

Nasib Petani Gambir Limapuluh Kota Jadi Perhatian, Dony Oskaria Perintahkan PTPN Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, PilarbangsaNews

Harapan petani gambir Limapuluh Kota, Sumatera Barat, untuk menikmati kesejahteraan yang lebih baik mulai mendapat jalan. COO Danantara Dony Oskaria memerintahkan PTPN turun langsung membenahi tata kelola gambir dari hulu ke hilir, termasuk pengolahan dan akses pasar.

 

 

Perintah itu disampaikan Dony saat bertemu Bupati Limapuluh Kota Safni Sikumbang dan jajaran pemerintah daerah di Wisma Danantara, Selasa (20/10/2026). Pertemuan tersebut juga dihadiri Sekretaris Komisi II DPRD Limapuluh Kota, Benni Okva Della.

 

Dony mengatakan, tim PTPN akan mengunjungi Limapuluh Kota pekan depan. Tim tersebut akan bertemu bupati untuk memulai penanganan gambir, salah satu komoditas unggulan daerah.

 

“Minggu depan tim PTPN segera turun ke Limapuluh Kota. Menemui bupati untuk memulai penanganan gambir, komoditas yang sangat strategis,” kata Dony.

 

Langkah pertama akan dimulai dengan menghitung potensi bahan baku yang tersedia. Dari sana, tim akan menentukan skala usaha, kapasitas pengolahan, kebutuhan mesin, dan peluang pasar.c“Kita urus dari hulu ke hilir,” tegas Dony.

 

Dalam pertemuan itu, Dony didampingi Sekretaris Utama BP BUMN Wahyu Kuncoro, Staf Ahli Kepala BP BUMN Khairul Jasmi, dan Deputi Bidang Peningkatan Nilai BUMN Endra Gunawan.

 

Potensi Gambir Besar, Petani Masih Berjuang

Bagi masyarakat Limapuluh Kota, gambir bukan sekadar komoditas perkebunan. Tanaman ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pelaku usaha dan keluarga petani.

 

Data BPS Sumatera Barat mencatat produksi gambir kering Limapuluh Kota mencapai 7.846 ton pada 2022. Bupati Safni menyebut produksi saat ini sekitar 9.000 ton.

 

Lebih dari 11.000 pelaku usaha bergantung pada komoditas tersebut. Sentra produksi gambir tersebar di Kapur IX, Pangkalan Koto Baru, dan Bukik Barisan.

 

Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Pemerintah daerah menilai tata kelola dan pengolahan gambir masih membutuhkan pembenahan.

 

Safni berharap keterlibatan Danantara dan BP BUMN dapat membuka jalan bagi pengembangan usaha gambir yang lebih baik. “Alhamdulillah gayung bersambut, Pak Dony langsung mengeluarkan perintah pengelolaan ke PTPN,” ungkap Safni.

 

Sekretaris Komisi II DPRD Limapuluh Kota, Benni Okva Della, turut menyampaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia menyebut sekitar 20 persen penduduk bergantung pada pertanian gambir.

 

Menurut Benni, sebagian petani masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Bahkan, masih ada warga yang tinggal di rumah yang belum layak.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena gambir telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat. Potensi ekonomi yang besar belum sepenuhnya dirasakan oleh petani di tingkat bawah.

 

Nilai Tambah Gambir Perlu Dinikmati Petani

Kepala Dinas Pertanian Limapuluh Kota, Witra, menjelaskan bahwa persoalan harga menjadi salah satu tantangan utama.

 

Selama ini, petani banyak menjual gambir dalam bentuk kering. Sementara itu, industri di India mengolahnya menjadi produk turunan, termasuk katha dan katekin, yang memiliki nilai tambah.

 

Dalam pertemuan tersebut, harga gambir di daerah disebut berkisar Rp48.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Namun, petani umumnya menerima Rp20.000 hingga Rp23.000 per kilogram.

 

Pada awal 2026, harga di tingkat petani bahkan sempat turun menjadi Rp17.000 per kilogram. Saat harga merosot, sebagian petani memilih berhenti memanen.

 

India menjadi pasar utama gambir Sumatera Barat. Pada 2024, ekspor gambir Sumbar mencapai 13.482 ton dengan nilai Rp574,7 miliar.

 

Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan komoditas gambir. Namun, penguatan industri pengolahan diperlukan agar nilai tambah tidak hanya dinikmati pelaku usaha di luar daerah.

 

PTPN Mulai dari Pemetaan Potensi

Penanganan gambir oleh PTPN akan dimulai dengan memetakan ketersediaan bahan baku dan menentukan skala usaha. Tim juga akan menghitung kebutuhan mesin, kapasitas pengolahan, serta peluang pemasaran produk.

 

Langkah tersebut menjadi dasar untuk membangun usaha yang sesuai dengan potensi gambir Limapuluh Kota. Ketersediaan bahan baku dan kepastian pasar menjadi pertimbangan penting sebelum menentukan kapasitas produksi.

 

Bagi petani, pembenahan ini membuka harapan agar gambir memiliki pasar yang lebih baik dan menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi.

 

Keterlibatan Danantara dan PTPN diharapkan tidak hanya memperkuat industri pengolahan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat penghasil gambir.

 

Dengan pembenahan dari hulu ke hilir, gambir diharapkan mampu menjadi penopang ekonomi daerah sekaligus membuka jalan menuju kehidupan petani yang lebih sejahtera. (Gilang)