Kabupaten Solok, PilarbangsaNews
Cerita sedih yang dialami Sakirman berusia 68 tahun, salah seorang dari banyaknya korban akibat musibah banjir bandang 21 September lalu. Ditengah kesibukan tanggap darurat, kisah ini baru saja terdengar ke telinga Bupati Solok Jon Firman Pandu.
“Setelah dikunjungi ibuk bupati, Insya Allah kita akan bantu Pak Cai panggilan akrab Sakirman, saya baru saja dengar sangat sedih juga mendengar kisah ini, ” kata Bupati menjawab wartawan PilarbangsaNews Sabtu (10/10/2026).
Meski wajah lelah terpancar dari orang nomor satu di Kabupaten Solok ini, sejak bencana melanda hampir tak pernah menjauh dari Posko bencana, ia berharap Pak Cai bersabar dan tabah melewati ujian hidup ini.
“Jangan ragu Pak Cai, kita bersama melewati duka ini, Kabupaten Solok tak sendiri, Insya Allah ada jalan terbaik untuk Pak Cai, maaf saya baru saja mendengar kabar ini, ” tambah Jon Firman Pandu.
Ceritanya, banjir bandang yang menghantam Kompleks Perkantoran Pemkab Solok dan pemukiman warga di Jorong Kayu, Nagari Batang Barus pada 21 September 2026 lalu, menyisakan cerita sedih garin Masjid Ikhlas Arrahman. Selain tertundanya perjalanan umroh, ia pun harus mengganti mobil rental yang rusak dihantam arus.
Malam itu Sakirman yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Cai, lansia yang telah menapak usia 68 tahun mengalami sebuah kisah sedih dan memilukan. Sejak terjadinya bencana hunian yang selama ini dtempati di samping masjid ikut tersapu saat bencana. Sejak itu ia tidur di lantai dua masjid.
Sebagai seorang garin, Pak Cai yang dikenal tekun beribadah ini, mendapatkan program umroh gratis dari donatur. Namun perjalanan umroh menjadi tertunda karena musibah ini. Mobil rental yang telah dipersiapkan untuk keberangkatan pada Subuh tanggal 22 September, pada malam kejadian terseret banjir. Kabarnya pihak mobil juga mengklaim meminta penggantian kerusakan kepada ayah empat anak ini.
Dalam keseharian, kehidupan Pak Cai untuk keluarga hanya pas pasan, maka sangat memantaskan donatur untuk mengulurkan tangan buat beliau. Jangankan untuk mengganti kerusakan mobil rental, untuk menghidupi keluarga saja ia perlu perjuangan berat.
Sebagai insan yang memiliki keimanan, sejak musibah menimpa, beliau hidup dalam kepasarahan, tak mengeluh, tak meminta. Ia hanya doa-doa yang selalu dilafazkannya setiap melaksanakan sholat lima waktu. Cerita dan kisah serta derita hidupnya pun tak diketahui banyak orang.
Mudah mudahan, selain Bupati Solok Jon Firman Pandu, muncul banyak lagi orang-orang dermawan agar beban berat bagi garin masjid ini dapat teratasi bersama. (Syam)



















