Web Hosting
Web Hosting
Opini

PERANG IRAN-ISRAEL UNTUK SIAPA?

140
×

PERANG IRAN-ISRAEL UNTUK SIAPA?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Anton Permana (Pengamat Geopolitik dan Pertahanan)

Terbunuh dan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Syaikh Ayatollah Ali Khamenei membuat tensi Timur Tengah semakin meradang. Meskipun, banyak pengamat yang memperkirakan terbunuhnya tokoh kharismatik dan paling berpengaruh itu hanya menunggu waktu di tengah tekanan militer AS dan Israel.

 

 

Perang jilid 2 ini, yang diprakarsai Israel melahirkan banyak tanda tanya besar di benak publik dunia, khususnya Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sebenarnya berperang saat ini? Apa yang menjadi motif utama sehingga perang seakan sesuatu yang harus terjadi? Karena bagaimanapun, stabilitas kawasan teluk dan apapun itu atas nama perang, yang akan menjadi korban tentu masyarakat sipil dan ekonomi dunia. Mengingat, Iran adalah salah satu produsen terbesar minyak dunia yang berpengaruh besar terhadap harga minyak dunia.

 

Setidaknya ada 5 isu besar yang menjadi motif utama perang ambisius dan emosional antara Iran Vs Israel yang didukung Amerika Serikat itu.

 

PERTAMA. Yang paling berkepentingan untuk menghancurkan Iran disini adalah Zionis Israel. Terlepas ada tesis pendapat yang menyatakan bahwa ada hubungan induk ideologis antara Yahudi dan Syiah Iran dalam versi theologis nubuat Isfahan. Namun, secara objektif dalam dua dekade tahun ini, posisi Iran sangat jelas perannya head to head bersebrangan dengan Israel. Termasuk dalam hal isu Palestina yang secara sekterian terpisah antara sekat Sunni dan Syiah.

 

Iran bersama poros aliansinya Hizbullah dan Houthi Yaman adalah satu-satunya poros kekuatan bersenjata di luar HAMAS, yang turun langsung membantu Palestina memerangi Israel.

 

Positioning Iran ini tentu menjadi ancaman nyata bagi Israel. Ditambah, perang 12 hari tahun 2025 yang lalu, ketika dunia juga kaget melihat peningkatan kemampuan militer Iran, semakin menjadi cemas dan melakukan berbagai upaya bagaimana secepatnya menghancurkan Iran sebelum terus semakin besar dan membahayakan Israel.

 

KEDUA. Israel saat ini di bawah kepemimpinan Netanyahu, secara politik domestiknya juga dalam keadaan terpojok dan di ujung tanduk. Berbagai kasus korupsi dan ketidakpuasan publik Israel atas beberapa kebijakan kontroversial Netanyahu, hampir saja membawa Netanyahu ke meja pengadilan bahkan bisa berujung pada impeachment.

 

Namun sayang, berita-berita seperti ini sangat jarang tayang di media mainstream yang mereka kuasai.

 

Sedangkan di satu sisi, para senior dan pemimpin tertinggi gerakan Zionis ini juga mendesak Netanyahu untuk segera mewujudkan proyek raksasa ambisiusnya dalam menyambut kedatangan “Mesiah” dalam perspektif theologis Zionis Yahudi ini. Salah satu konsekuensinya itu adalah bagaimana bumi Palestina termasuk Masjidil Al Aqsho “bersih” dari penduduk non Yahudi. Dan salah satu pilihan tindakan sporadis yang mereka lakukan itu adalah, meratakan Gaza dan Genosida (pembunuhan massal) terhadap penduduk asli Palestina dengan berbagai cara.

 

Dan Israel menganggap Iran berserta aliansinya adalah salah satu poros kekuatan yang menjadi ancaman dan penghalang dari proyek besar itu. Makanya, Netanyahu ingin Iran segera dilumpuhkan kemampuannya atas isu senjata nuklir sebagai cover alibinya.

 

KETIGA. Elit Global, dalam hal ini kita menyebut AS, Israel berserta sekutunya yang lain, menganggap Iran adalah “anak nakal” yang mulai lari dari skenario elit global. Di bawah kepemimpinan Mullah Syiah ini.

 

Awalnya, ketika terjadi Revolusi Islam Iran dengan jatuhnya pemerintahan Reza Pahlevi, Amerika masih beranggapan bisa memainkan standar gandanya dalam politik “Balance of Power” melalui pengaruh Arab Saudi di kawasan Timur Tengah. Dimana, dengan kehadiran Iran sebagai negara Syiah, akan disetting menjadi kekuatan penyeimbang pengaruh Arab Saudi yang beraliran Sunni. Ditambah, sebagian besar negara teluk tersebut juga berbentuk Monarki Absolut.

 

Tujuannya apa? Tidak lain dan tidak bukan untuk agar bagaimana AS dan sekutunya bisa mengontrol produksi minyak negara negara Arab yang menghasilkan 60 persen minyak dunia.

 

Iran dalam perspektif politik Balance of Power-nya Amerika, sengaja dibuat dan diskenariokan selain sebagai kekuatan pro antagonis untuk konsumsi publik barat, tapi di satu sisi akan menjadi super hero dalam konsumsi publik dunia Islam. Sehingga, Iran akan mendapat simpati dan berbagi pengaruh dengan Arab Saudi minimal di kawasan. Atau lebih tepatnya menjadi rivalitas Arab Saudi di kawasan.

 

Kenapa kondisi rivalitas antara Arab Saudi dan Iran ini dibutuhkan Amerika ? Agar dua negara terkuat di timur tengah ini berpecah belah tidak bersatu. Karena, kalau bersatu maka akan bisa menjadi ancaman serius bagi kepentingan Amerika dan sekutunya.

 

Namun sayang, dalam dua dekade terakhir, Amerika justru melihat Iran semakin progresif namun tidak bisa dikendalikan.

 

KEEMPAT. Iran adalah salah satu penghasil terbesar energi di dunia, khususnya Migas. Selat Hormuz yang berada di kawasan dekat Iran juga menguasai 20 persen perdagangan minyak dunia. Dan yang paling krusial juga bagi Amerika adalah Iran juga salah satu pemasok energi terbesar untuk China yang menjadi musuh utama dan bebuyutan Amerika saat ini.

 

Seperti yang kita ketahui, Raksasa China salah satu kelemahannya adalah pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya yang 60 persen import. Apabila pasokan energi China terganggu, maka akan berdampak besar terhadap ribuan pabrik industri China tempat ratusan jutaa penduduk China berkerja. Kalau industri mati, sudah jelas ini akan menjadi bencana besar bagi China yang berpaham sosialis.

 

Artinya, setelah Venezuela, Pakistan, India, Rusia dan Eropah timur, Iran adalah pemasok utama yang sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan industri China. Artinya juga, upaya melumpuhkan Iran saat ini adalah juga sebagai rangkaian strategi Amerika untuk mesabotase pasokan energi China secara bertahap dan sistematis.

 

Ibaratnya, untuk menggembosi dan ingin melumpuhkan China, Amerika melakukan sabotase pasokan energi melalui negara negara pemasoknya langsung. Melalui berbagai cara termasuk intervensi militer.

 

KELIMA. Trump, dengan khas gaya republikan party-nya yang agresif. Sedang mabuk mempertahankan status hegemoninya di dunia global. Dengan hadirnya aliansi BRICS, dimana Iran menjadi salah satu negara pilar utamanya, tentu juga akan membuatnya merasa terganggu. Apalagi, Iran juga menerapkan “dedolarisasi” dalam transaksi minyaknya.

 

Keikut sertaan Iran dalam BRICS, yang mencoba menjadi penantang AS inilah yang juga menjadi motivasi AS untuk segera melumpuhkan Iran. Meskipun, AS pada satu sisi tetap membutuhkan Iran sebagai “Bandit” timur tengah dalam politik Holywood khasnya Amerika yaitu ; Agar kelihatan menjadi hero dan polisi dunia, maka Amerika harus diciptakan musuh bersama alias pejahat bernama Iran melalui propaganda media massanya.

 

Namun, ketika Iran tidak bergeming dengan tawaran diplomasi AS, barulah melalui tangan Israel (si Amerika kecil) memulai serangan militer langsung terhadap Iran. Dan sebagaimana kita ketahui, Iran juga membalasnya dengan sengit dan brutal.

 

Dari lima hal di atas, mungkin saja banyak hal lain yang bisa juga menjadi alasan terjadinya perang antara Iran Vs Israel plus Amerika.

 

Namun, yang kita sayangkan adalah, kembali, DK PBB yang kita harapkan menjadi wasit tidak bisa berbuat apa-apa. Kembali arogansi sebagai negara Super Power semata yang seakan bisa berbuat apa saja terhadap dunia global ini. Lalu apa bedanya dengan hukum rimba?

 

Lalu bagaimana sikap Indonesia seharusnya dalam situasi ini?

 

Meski presiden Prabowo sudah menyatakan siap menjadi mediator damai dan datang ke Teheran. Meski publik menanggapinya dengan sinis dan pesimis. Karena, Indonesia belum cukup deposit moral dan besar pengaruhnya untuk bisa berperan sebagai juru damai.

 

Namun saya berpikiran lain. Bagaimanapun, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar serta bahagian dari dunia global, pasti akan kena dampak perang ini baik secara langsung dan tidak langsung.

 

Apalagi saat ini, Iran mulai brutal membalas menyerang pangkalan pangkalan militer Amerika di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UAE. Termasuk Riyadh Saudi, setelah Israel. Ini sudah bisa dikatakan bahwa perang terbuka di kawasan sudah dimulai. Meskipun yang kita sayangkan adalah, secara kasat mata kawasan yang dibombardir itu semua adalah sesama negara muslim yang ada pangkalan militer Amerika di dalamnya.

 

Tidak ada yang bisa memastikan, apakah perang ini akan berlanjut atau tidak. Namun secara pribadi saya berpendapat, perang ini akan berlanjut atau tidaknya tergantung tiga hal :

 

1. Siapa pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Karena siapa figur pengganti beliau ini sangat berpengaruh terhadap konstalasi perang. Apakah akan semakin dinamis membalas dendam, atau siap berunding dengan Amerika dengan kompensasi- kompensasi tertentu

 

2. ⁠Psikologis para pemimpin dunia Arab seperti Arab Saudi, UAE, Qatar, Kuwait, Bahrain. Karena yang paling menerima resiko adalah mereka. Dan kelompok negara super kaya ini juga yang akan bisa melobby Trump secara persuasif dan opportunis, apakah perang ini berlanjut atau tidak. Tapi tentu dengan bargaining serta kompensasi tertentu juga. Karena mereka juga tahu, bagaimana oppurtonis dan gila nya seorang Trump.

 

3. ⁠Tergantung kemauan Trump itu juga sendiri. Apakah semua sudah sesuai dengan misi Trump untuk memastikan kembali bahwa kontrol dan hegemoni dunia masih tetap berada di bawah Amerika sebagai Polisi dunia. Untuk target dan alat ukurnya tentu juga hanya Trump itu sendiri yang tahu. Apakah sudah cukup atau belum.

 

Sebenarnya, masih ada faktor external lainnya yang tidak bisa dianggap remeh yaitu posisi Rusia dan China sebagai sekutu dekatnya Iran. Namun sampai tulisan ini dibuat, belum ada reaksi yang signifikan dari dua negara ini.

 

Bisa saja, dua negara ini belum mau terlibat langsung head to head dengan Amerika. Mengingat dua negara ini juga sedang menghadapi ancaman serius, baik perang Ukrainia terhadap Rusia, maupun eskalasi Taiwan dengan China.

 

Tapi kita semua tentu berharap, perang terbuka tidak akan berlanjut, karena yang akan menjadi korban serta merasakan dampaknya juga kita semua. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Wallahu’alamm.

Jeddah, 01 Maret 2026

 

*) Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis