Padang, PilarbangsaNews
Tiga hari lalu viral desakan Anggota DPRD agar Gubernur mengganti dua Kepala Dinas (Kadis) di jajaran Pemprov Sumbar, salah satunya Kepala Dinas Pendidikan.
Bak gayung bersambut, desakan itu pun diperkuat oleh pernyataan keras Ketua Relawan Mahyeldi-Vasko di Pilkada 2024, Muhammad Zuhrizul alias Mak Etek.
“Cocok, Kadis-Kadis yang menjalankan rurinitas saja agar dievaluasi dan diganti saja. Jangan biarkan ‘benalu’ di Pemprov Sumbar,” ujar Zuhrizul, Rabu (16/7/2025).
Bahkan lebih garang lagi, Zuhrizul ‘tunjuk hidung’ tentang siapa Kadis yang pas diganti yaitu Kadis Pendidikan Sumbar. “Dalam menyukseskan Progul Mahyeldi-Vasko tidak cukup pintar saja, tapi harus kuat dengan daya inovasi,” ujarnya.
Muhammad Zuhrizul wajar gahar, karena banyak masalah di dunia pendidikan, apalagi di masa penerimaan siswa baru, dan yang terbaru itu SMA 5 Bukittinggi digembok warga. Belum lagi Kadis sekarang ini juga punya PR masalah dalam periode Mahyeldi-Audy dulu, seperti masalah pengadaan dan kunjungan kerja ke luar negeri hasil temuan BPK.
“Juga soal beberapa pembanguan sekolah yang mangkrak dan masalah Beasiswa Rajawali serta juga penerimaan siswa yang menjadi problem tahunan,” ujarnya.
Muhammad Zuhrizul mendesak duet Mahyeldi-Vasko berani dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Dinas Pendidikan Sumbar. “Masaalah pendidikan adalah kebutuhan dasar masyarakat yang harus disediakan oleh pemerintah apalagi saat ini kepemimpinan Presiden Prabowo sangat konsen masaalah pendidikan dan kesehatan yang menjadi pondasi generasi, jadi tidak boleh dianggap sepele,” ujar Mak Etek Zuhrizul.
Kata Mak Etek, Gubernur Sumbar harus melakukan evaluasi menyeluruh dan objektif dalam menentukan siapa orang yang dianggap kompeten untuk mengurusi kebutuhan dasar masyarakat di bidang pendidikan itu.
“Jangan lagi menentukan pemimpin di sebuah OPD karena kedekatan emosional, tapi tidak kompeten dan tidak memiliki inovasi mencarikan jalan keluar dari berbagai masalah pendidikan di Sumbar. Dampaknya fatal, yaitu merugikan masyarakat sebab dinas pendidikan itu adalah dinas yang sangat vital bukan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Muhammad Zuhrizul, kepala dinas pendidikan tidak hanya menjalankan administrasi kedinasan tapi harus punya inovasi dari beberapa masaalah tahun sebelumnya dengan mencarikan solusi, seperti melakukan evaluasi potensi siswa baru, apakah harus ada penambahan lokal, penambahan kursi/ meja.
“Masak untuk studi banding keluar negeri dengan anggaran ratusan juta ruliah ada uang, tapi untuk penambahan lokal tidak ada uang, ini kan sangat miris sekali. Jika hanya melakukan administrasi rutin saja semua orang bisa jadi Kadis,” ujar Mak Etek geleng-geleng kepala.
Muhammad Zuhrizul menekankan, jangan hanya sebagai Kadis karena merasa dekat dengan gubernur dan merasa tidak akan dievaluasi dalam melakukan pekerjaan tanpa inovasi.
“Tanpa adanya keprihatinan melihat masih banyaknya anak-anak kita tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya untuk sekolah di swasta. Belum lagi masih banyaknya kerusakan karakter siswa dengan tidak jelasnya program pendidikan yang dibuat dinas pendidikan. Jadi saya sebagai Ketua Relawan Mahyeldi-Vasko punya tanggung jawab moral terhadap janji kampanye, karena yang berjanji bukan cuma kepala daerah tapi kita juga ikut berjanji,” ujar Mak Etek.
Wajar DPRD Sumbar mendesak evaluasi OPD yang tidak kuat inovasi dan kreatif, karena DPRD menangkap apresiasi dari masyarakat diwakili.
“DPRD harus gasspoll soal OPD Pemprov yang kerjanya rutinitas administrasi, jangan diam saja dari berbagai masaalah pendidikan Sumbar, apalagi Ketua DPRD Sumbar adalah seorang pendidik, harus pikirkan bersama Gubernur-Wakil Gubernur (Mahyeldi-Vasko,red). Kedepan tidak ada lagi masalah masalah klasik pendidikan dan tidak adalagi orang tua yang menangis karena anaknya tidak bisa sekolah apalagi orang tua yang ulayatnya diserahkan ke pemerintah dan juga harus pikirkan biaya/beasiswa Dana Rajawali bagi yang tidak mampu. Untuk apa ada uang abadi beasiswa sementara ada anak kita tidak bisa lanjut sekolah baik SMA maupun kuliah,” tegas Mek Etek.
Selain itu soal nilai siswa di Sumbar, kata Mak Etek jangan jadi patokan. Banyak anak-anak nilainya kurang bagus dulu waktu SMP/SMA malah sekarang jadi sukses dan sebaliknya.
“Jadi jangan hanya berpatokan nilai sebagai pelepas jawab soal administrasi. Sampaikan kepada Kementerian Pendidikan bahwa pendidikan karakter sangat penting,” ujar Maetek yang juga koordinator #SaveOurYouth dengan tagline “Ketika Pintar Saja Tidak Cukup”.
Sementara dari kalangan terbatas membantah statemen pedas Muhammad Zuhrizul itu. Menurut mereka, tidak semua pernyatan Mak Etek itu benar 100 persen karena Kadis Pendidikan Sumbar telah bekerja all out, termasuk mengusulkan penambahan lokal dan penambahan dana BOS. Tetapi soal itu daerah hanya sekedar mengusulkan, namun yang menentukan tetap ada di pemerintah pusat. (Gilang)













