Oleh: Widiat B.Arta (Wartawan PilarbangsaNews)
Legenda hidup penyanyi dan pencipta lagu Titiek Puspa berpulang ke rahmatullah pada hari Kamis, 10 April 2025 pukul 16.25 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.
Jenazahnya telah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan pada hari Jumat, 11 April 2025 setelah disemayamkan dirumah kediamannya di Kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Ribuan orang dari semua lapisan datang melayat dan mengantarkannya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Eyang Titiek meninggal dalam usia 87 tahun, dan meninggalkan banyak karya seni, diantaranya lagu dengan judul Bing, Gang Kelinci, Apanya Dong, dan lain-lainnya.
Sekelumit, saya memiliki kenangan dengan beliau. Saat itu bulan Desember tahun 1983. Dalam rangakaian memeriahkan hari jadi Kota Payakumbuh ke-13, kegiatan yang digelar panitia bukan saja pacu kuda. Tapi, juga hiburan dengan mendatangkan penyanyi minang yang tak asing lagi, Elly Kasim (Almh), dan artis senior ibu kota Titiek Puspa.
Pentas terbukanya bertempat di Lapagan Poliko (areal kantor Wali Kota Payakumbuh sekarang). Band pengiring duo dedengkot legend ini adalah Band Mariani’s dari Kota Padang pimpinan dr Wide.
Ketika itu saya masih wartawan pemula, wartawan cilik istilahnya, dan sedang masa uji liputan ke lapangan yang diberikan oleh instruktur tempat saya belajar/kursus jurnalistik saat itu, yakni di Balai Wartawan Sumbarut, Bukittinggi. Dalam masa kuliah di STHM (Sekolah Tinggi Hukum Muhammadiyah) Bukittinggi, saya ikut kursus wartawan angkatan ke dua.
Saya ditugaskan “ngepos” di Kantor Camat Payakumbuh Timur dengan camat pertamanya Pak Amasri, BA.
Saya bertekad, saat malam hiburan itu akan mewancarai artis yang datang dari ibu kota Jakarta itu. Sorenya sudah saya siapkan kamera (tustel bahasa akrabnya saat itu) pinjaman dari kantor camat, bagian Bangdes yang kasinya saudara Un.
Malam hari ketika musik mulai terdengar berdentum dari kantor bupati (sekarang ditempati dinas kesehatan), saya dan Pak Yusrizal (wartawan Harian Semangat) serta beberapa kawan lain dari Balai Wartawan memasuki kawasan Lapangan Poliko. Selanjutkan kami merapat kedepan pentas sembari memainkan tustel membidik momen-momen penting.
Artis utama masih belum dipanggil MC untuk mengalunkan tembang-tembang favoritnya. Spontan, sejurus kemudian saya melompat ke atas pentas tempat Titiek Puspa dan Cik Uniang Elly Kasim duduk. Sembari memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan, maka saya mewawancarai Titiek Puspa.
Yang saya tanyakan ketika itu tentang dunia tarik suara, baik pop modern dan lagu-lagu daerah.
“Iya dek, kita harus memupuk dan menumbuhkembangkan potensi lagu-lagu daerah. Malah, harus dilestarikan,” kata Titiek Puspa menjawab pertanyaan saya. Untuk mengabadikan wawancara ini, saya minta tolong kepada Pak Yusrizal memotretnya dengan kamera pinjaman dari kantor camat yang bermerek Yasica itu.
Sejurus wawancara selesai, Uni Elly Kasim yang duduk disamping Titiek Puspa bartanya kepada saya dari media mana.
“Apo korannyo diak,” tanya uni Elly. Saya jawab, “Harian Singgalang Ni..”. “Ee..lai koran awak juo ye,” ujar Elly Kasim ditengah dentuman bunyi suara musik.
Dalam mentas di Payakumbuh ini Titiek Puspa didampingi suaminya Mus Mualim (sekarang sudah Alm), dan Uni Elly juga didampingi suaminya Bang Najib (Nasif Basir) yang kini juga sudah almarhum. Najib juga senior saya di Harian Singgalang.
Wawancara istimewa saya dengan Titiek Puspa dimuat halaman musik dan artis di Harian Singgalang Edisi Minggu beberapa hari setelah itu.
Diakhir tulisan ini, saya mengucapkan turut berduka cita sedalamnya atas berpulangnya Eyang Titiek Puspa. Saya kirimkan Al Fatihah buat arwahmu… (wba)










