Padang, PilarbangsaNews
Disaat pembangunan terowongan dan infrastruktur bawah tanah menjadi taruhan masa depan konstruksi Indonesia, Fakultas Teknik Universitas Andalas (FT Unand) memilih tidak menjadi penonton. Sikap itu diwujudkan dengan mengambil peran aktif sebagai penggerak riset, melalui pembukaan Program Hibah Diaspora Berdampak 2026 yang menggandeng diaspora kelas dunia.
Program bergengsi tersebut diraih oleh dosen Teknik Sipil FT Unand, Ir. Akhmad Suraji, MT., Ph.D., IPM., dengan menghadirkan Prof. Bambang Trigunarsyah dari RMIT University, Australia sebagai Diaspora Scholar.
Kegiatan Opening Ceremony and Institutional Meeting digelar pada Senin (2/11/2026) di Ruang Seminar Lantai 3 Departemen Teknik Sipil, Kampus Limau Manis. Program ini dikawal langsung oleh Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB) FT Unand.
Dekan FT Unand, Prof. Ir. Is Prima Nanda, MT., menegaskan, kolaborasi ini adalah jawaban atas tantangan besar dunia teknik, khususnya teknik sipil, hari ini.
“Selama ini kita membangun di atas tanah. Kedepan, kita harus berani membangun di bawah tanah. Dengan riset yang kuat tentang konstruksi terowongan, manajemen risiko, dan tata kelola aset, kita mampu ikut berperan serta langsung pada proyek-proyek strategis nasional seperti pembangunan Jalan Tol,” tegas Prof. Is Prima kepada wartawan media ini, Senin (2/11/2026).
Dekan FT Unand Prof. Ir. Is Prima Nanda, MT.
Menurutnya, kehadiran Prof. Bambang bukan sekadar simbolis. RMIT University dikenal sebagai salah satu pusat unggulan riset manajemen proyek dan infrastruktur global. Kehadiran diaspora scholar tersebut akan menjadi jembatan transfer teknologi dan standar riset internasional ke Unand.
“Kita tidak mau riset kita hanya berhenti di jurnal dan perpustakaan. Lewat Hibah Diaspora Berdampak ini, kita paksa riset kita harus berdampak. Harus bisa menjawab persoalan tata kelola proyek yang kurang profesional, manajemen risiko terowongan yang gagal, dan pengelolaan aset infrastruktur yang belum optimal,” ujarnya lugas.
Prof. Is Prima menyebut, PUSTROIB dipersiapkan menjadi pusat rujukan nasional. Dengan kondisi geografis Indonesia yang ekstrem, mulai dari pegunungan hingga sesar aktif, keahlian infrastruktur bawah tanah menjadi sebuah keharusan.
“Kolaborasi dengan RMIT ini akan memperluas jejaring akademik internasional, sekaligus memastikan pembangunan infrastruktur Indonesia dibangun dengan peran serta para insinyur Indonesia sendiri,” pungkasnya.(Gilang)
