Lubuk Sikaping, PilarbangsaNews
Mewujudkan Pasaman Bangkit tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang memiliki daya kritis, kreativitas, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Berangkat dari semangat tersebut, Pers Bersatu Tuah Saiyo (PBTS) menghadirkan Geliat Aksara Muda untuk Pasaman melalui lomba karya tulis esai tingkat SLTA sederajat se-Kecamatan Lubuk Sikaping, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Pasaman ke-81.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong budaya literasi sekaligus memberikan ruang bagi pelajar untuk menyampaikan pemikiran dan kepedulian terhadap persoalan di lingkungan mereka. Puluhan karya esai mengikuti proses penilaian dengan mengangkat tema penanaman budaya aman dan nyaman di lingkungan sekolah.
Bagi PBTS, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Lebih jauh, literasi menjadi sarana membangun karakter, mengembangkan pemikiran kritis, dan menumbuhkan keberanian generasi muda untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
Inspirator Geliat Aksara Muda untuk Pasaman, Muhammad Doni, S.H., M.H., CCLC., menegaskan bahwa kebangkitan daerah tidak dapat dibebankan semata-mata kepada kepala daerah dan jajaran pemerintahannya. Partisipasi masyarakat, dunia pendidikan, organisasi, insan pers, dan generasi muda diperlukan agar pembangunan berjalan dengan dukungan yang lebih luas.
Menurut Doni, gagasan yang lahir dari kalangan pelajar merupakan potensi yang perlu diberi ruang, didengar, dan dikembangkan.
“Kami melihat partisipasi pelajar sangat tinggi. Bahkan, pemikiran kritis remaja-remaja sekarang mampu memberikan energi baru bagi kami untuk menyuarakan apa saja yang mereka butuhkan dalam mewujudkan Pasaman Bangkit,” ungkap Doni.
Ia menilai, lomba esai tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar kompetisi untuk memperebutkan penghargaan. Kegiatan ini menjadi wadah bagi pelajar untuk menyampaikan pandangan, membangun kepekaan terhadap persoalan sosial, serta mengembangkan kemampuan menawarkan solusi melalui tulisan.
“Setiap anak muda memiliki pikiran, potensi, dan gagasan yang layak mendapatkan ruang untuk tumbuh. Melalui tulisan, mereka tidak hanya menyampaikan kata-kata, tetapi juga menanamkan pemikiran, menyuarakan kepedulian, dan menawarkan solusi bagi masa depan,” ujarnya.
Doni berharap, keberanian pelajar menuangkan gagasan ke dalam tulisan dapat berkembang menjadi kebiasaan positif yang berkelanjutan.
“Jangan takut menulis, jangan takut bermimpi, dan jangan pernah merasa bahwa gagasan kalian tidak berarti. Bisa jadi, tulisan sederhana hari ini menjadi inspirasi besar bagi Pasaman di masa depan,” katanya.
Antusiasme peserta terlihat dari puluhan karya yang masuk dalam kompetisi tersebut. Beragam pemikiran dituangkan dalam tulisan yang berfokus pada upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Berdasarkan hasil penilaian panitia, peserta dari SMAN 1 Lubuk Sikaping tampil sebagai yang terbaik. Selanjutnya, prestasi diraih peserta dari SMA 3 Sumbar, MAN 1 Lubuk Sikaping, dan SMA 2 Lubuk Sikaping.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengapresiasi kreativitas pelajar sekaligus mendorong tumbuhnya tradisi menulis di lingkungan pendidikan.
Lebih dari persoalan menang dan kalah, lomba esai ini diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan menyusun argumen, mengolah informasi, dan menyampaikan gagasan secara sistematis.
Tema lingkungan sekolah yang aman dan nyaman juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk merefleksikan pentingnya rasa saling menghormati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang belajar yang kondusif.
Ketua PBTS Pasaman, Yunsar Lubis, mengatakan lomba menulis esai tingkat SLTA sederajat se-Kecamatan Lubuk Sikaping tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan HUT Kabupaten Pasaman ke-81.
“Lomba ini merupakan bentuk kepedulian PBTS terhadap dunia pendidikan dan generasi muda. Kami ingin memberikan ruang kepada pelajar untuk menyampaikan gagasan, sekaligus mendorong mereka agar terbiasa berpikir kritis dan menulis,” ujar Yunsar.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya literasi di Kabupaten Pasaman.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang dapat terus dikembangkan. Ke depan, PBTS ingin menghadirkan lebih banyak kegiatan yang merangsang kreativitas dan mengembangkan kemampuan menulis generasi muda Pasaman,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi PBTS untuk merangsang kreativitas dan mengembangkan kemampuan menulis generasi muda Pasaman pada masa mendatang.
Harapan itu sekaligus menegaskan bahwa kontribusi insan pers dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain menjalankan fungsi jurnalistik, insan pers juga dapat mengambil bagian dalam mendorong tumbuhnya budaya literasi dan memperluas ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pemikiran.
Melalui kegiatan ini, PBTS berupaya mempertemukan semangat jurnalistik dengan dunia pendidikan.
Dikesempatan yang sama, Ketua Panitia Geliat Aksara Muda untuk Pasaman, Riki Hendra, menjelaskan bahwa proses pelaksanaan lomba berlangsung dengan melibatkan peserta dari berbagai sekolah tingkat SLTA sederajat di Kecamatan Lubuk Sikaping.
“Antusiasme peserta cukup baik. Karya-karya yang masuk menunjukkan bahwa pelajar memiliki perhatian terhadap kondisi lingkungan sekolah dan mampu menuangkannya dalam bentuk gagasan tertulis,” ungkap Riki.
Ia mengatakan, tema budaya aman dan nyaman di lingkungan sekolah dipilih karena dekat dengan kehidupan sehari-hari para peserta.
“Kami ingin peserta tidak hanya menulis secara teoritis, tetapi juga mampu melihat persoalan di lingkungan mereka sendiri. Dari sana, mereka diharapkan dapat menawarkan solusi yang sederhana, realistis, dan bisa diterapkan,” ujarnya.
Riki menambahkan, panitia berupaya menjaga proses penilaian agar berlangsung objektif dengan memperhatikan sejumlah aspek, seperti kesesuaian tema, kekuatan gagasan, sistematika penulisan, kreativitas, serta kemampuan peserta dalam menyampaikan solusi.
“Yang paling penting dari kegiatan ini bukan hanya siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana seluruh peserta mendapatkan pengalaman dan keberanian untuk menyampaikan gagasan. Kami berharap mereka terus menulis dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada sekolah, guru pembimbing, peserta, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Tanpa dukungan semua pihak, kegiatan ini tidak akan berjalan dengan baik. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dilanjutkan dan menjadi agenda yang lebih besar pada masa mendatang,” tambah Riki.
Melalui gerakan literasi ini, PBTS menempatkan pena sebagai salah satu sarana untuk menumbuhkan kesadaran dan mempersiapkan generasi penerus yang mampu berpikir, berkarya, serta mengambil bagian dalam kemajuan daerah. (Zul)



















