Web Hosting
Web Hosting
Berita

Tinjau Pekerjaan Jalan Sungai Rumbai-Junction Koto Baru, Zigo Lembut Tapi Telak

39
×

Tinjau Pekerjaan Jalan Sungai Rumbai-Junction Koto Baru, Zigo Lembut Tapi Telak

Sebarkan artikel ini

Dharmasraya, PilarbangsaNews

Debu beterbangan di ruas jalan Sungai Rumbai–Junction Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Rabu siang (6/5/2026). Di tengah suara alat berat dan lalu lalang kendaraan logistik, Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda, berdiri memperhatikan kondisi jalan nasional yang lama dikeluhkan masyarakat.

 

 

Tak ada nada tinggi. Tak ada gebrakan meja. Namun, setiap pertanyaan yang keluar dari mulut politisi asal Sumatera Barat itu terasa menusuk tepat sasaran.

 

“Ini anggarannya berapa? Ini kan multi years?” tanya Zigo kepada pihak rekanan pelaksana proyek preservasi jalan.

 

Percakapan berlangsung santai. Sesekali terdengar tawa kecil. Tetapi suasana berubah serius ketika pihak kontraktor mengakui progres pekerjaan baru sekitar tiga persen dan bahkan minus dari target.

 

Zigo mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang. Namun kalimat berikutnya membuat suasana mendadak hening. “Penganggaran susah sekarang, Pak. Orang teriak-teriak dulu, baru bapak kerja,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak meledak-ledak. Tetapi telak.

 

Di lokasi itu, Zigo memang sedang menjalankan fungsi pengawasan Komisi V DPR RI terhadap proyek preservasi jalan nasional ruas Sungai Rumbai–Junction Koto Baru. Jalan tersebut merupakan jalur logistik penting di lintas tengah Sumatera.

 

Bagi masyarakat Dharmasraya, kondisi jalan itu bukan lagi sekadar soal infrastruktur. Jalan rusak telah memicu kecelakaan demi kecelakaan. Bahkan warga sempat menanam batang pisang di badan jalan sebagai simbol protes.

 

Keluhan itulah yang dibawa Zigo langsung ke hadapan rekanan. “Banyak orang kecelakaan di jalan nasional. Jalan Koto Baru sampai ditanam batang pisang oleh masyarakat,” ujarnya.

 

Pihak kontraktor kemudian menjelaskan berbagai kendala. Mulai dari masalah teknis hingga keterlambatan mobilisasi alat berat dan crusher yang disebut memakan waktu sampai enam bulan.

 

Namun lagi-lagi, Zigo merespons tanpa emosi berlebihan. Ia justru memilih menyodorkan pertanyaan sederhana yang sulit dibantah.

 

“Pakai uang muka, kan?” tanyanya.

 

“Iya, Pak,” jawab rekanan.

 

“Kalau begitu apa komitmennya?” lanjut Zigo.

 

Nada suaranya datar. Tetapi pesannya jelas. Ia ingin pekerjaan berjalan, bukan sekadar alasan.

 

Di tengah dialog itu, Zigo juga menanyakan jumlah alat berat yang benar-benar bekerja di lapangan. “Excavator ada dua unit, Pak. Compactor tiga unit,” jawab pihak kontraktor.

 

Zigo kembali menatap ruas jalan yang dipenuhi kendaraan besar. Jalur itu memang urat nadi distribusi barang di Sumatera Barat. Karena itu, keterlambatan proyek tak bisa dianggap biasa.

 

“Ini jalan logistik, jalan lintas tengah. Bapak nggak bisa anggap ringan,” katanya.

 

Pengawasan hari itu memperlihatkan satu hal yang mulai dikenal publik tentang sosok Zigo Rolanda: lembut dalam bicara, tetapi telak dalam menekan persoalan.

 

Ia tidak memilih marah-marah di depan publik. Namun setiap kalimatnya menempatkan tanggung jawab tepat pada sasarannya. “Pemerintah saja yang disalahkan. Yang lalai itu bapak sebagai rekanan, kan,” ucapnya.

 

Kalimat singkat itu menjadi penutup yang paling terasa keras. Bukan karena nadanya tinggi, melainkan karena kebenarannya sulit dibantah.

 

Zigo Rolanda tak banyak memainkan emosi saat berdialog dengan rekanan. Ia hanya bertanya, mendengar, lalu menekan dengan fakta-fakta di lapangan. Dari situlah publik melihat satu hal: lembut cara bicaranya, tetapi telak ketika menyentuh tanggung jawab. (Gilang)