Web Hosting
Web Hosting

In Memoriam

Duka Ranah Minang, Satu Penanda Zaman Telah Pergi: Om Ery Mefry dan Ingatan yang Tak Pernah Usai

76
×

Duka Ranah Minang, Satu Penanda Zaman Telah Pergi: Om Ery Mefry dan Ingatan yang Tak Pernah Usai

Sebarkan artikel ini

Catatan: Gilang Gardhiolla Gusvero (Wartawan)

Kabar itu datang seperti jeda panjang dalam ingatan. Pelan, namun menghentak. Nama itu kembali terucap dalam suasana duka: Om Ery Mefry.

 

 

Ingatan saya melompat pada satu pertemuan sederhana, ketika saya mengikuti pelatihan penulisan jurnalistik seni pertunjukan yang di adakan oleh Nan Jombang Dance Company.

 

Di sela kegiatan itu, beliau duduk bersama kami. Tidak ada jarak antara maestro dan wartawan muda. Ia berbincang ringan, lalu mengalir pada cerita-cerita lama yang penuh makna.

 

Ia menyebut nama-nama wartawan senior dengan penuh hormat dan keakraban: Gusfen Khairul, Khairul Jasmi, Nasrul Azwar, Asril Koto, almarhum Indra Sakti Nauli, dan banyak lainnya.

 

Dari nada suaranya, terasa bahwa hubungan itu bukan sekadar profesional. Ada kedekatan, ada diskusi panjang tentang gagasan, ada perdebatan sehat tentang seni dan kebudayaan.

 

Di matanya yang berbinar, saya melihat kerinduan pada masa ketika wartawan begitu peduli pada kesenian dan seni pertunjukan.

 

Di balik kisah-kisah itu, terselip harapan. Ia merindukan lahirnya kembali wartawan-wartawan yang memberi ruang serius bagi seni dan budaya.

 

Ia paham betul bahwa panggung tidak cukup hanya dengan tepuk tangan. Seni juga membutuhkan tulisan, kritik, dan dokumentasi yang jujur agar tetap hidup dalam ingatan publik.

 

Dalam pelatihan itulah, saya menulis karya pertama saya tentang seni pertunjukan berjudul “Rantau Berbisik, Ada Pesan di Balik Gerakan”, yang menampilkan sang koreografer sebagai pusat cerita.

 

Kini, saya menyadari, mungkin tulisan itu lahir dari percikan semangat yang ia tularkan hari itu.

 

Hari ini, sebagian nama yang pernah ia sebut telah lebih dulu berpulang. Sebagian lainnya masih melanjutkan jejak di dunia jurnalistik.

 

Kini, beliau pun menyusul. Dunia seni pertunjukan Minangkabau kembali kehilangan satu penanda zaman.

 

Om Ery Mefry bukan hanya maestro tari dari Ranah Minang yang karyanya mendunia.

 

Ia adalah jembatan antara panggung dan pemberitaan, antara gerak tubuh dan narasi. Ia memahami bahwa setiap gerakan memiliki pesan, dan setiap pesan membutuhkan ruang untuk dituliskan.

 

Ada rasa syukur karena pernah berada dalam satu ruang dengannya, mendengar kisah-kisah itu secara langsung. Namun ada pula duka yang tak terelakkan. Pertemuan itu kini menjadi kenangan yang tak akan terulang.

 

Selamat jalan, Om Ery Mefry…